Beranda » Berita » Upwelling 2026: Laut Subur, Rezeki Nelayan di Tengah El Nino

Upwelling 2026: Laut Subur, Rezeki Nelayan di Tengah El Nino

IPIDIKLAT News – Fenomena upwelling diperkirakan akan membawa berkah bagi nelayan Indonesia di tengah potensi El Nino 2026. Kondisi kekeringan di darat justru diprediksi meningkatkan kesuburan laut, terutama pada periode April hingga Agustus 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau akan berlangsung lebih kering dari biasanya, dengan potensi El Nino lemah hingga moderat. Namun, pakar oseanografi justru melihat peluang peningkatan hasil laut berkat fenomena upwelling.

Berkah Upwelling Saat Kemarau 2026

Peneliti Ahli Utama Bidang Kepakaran Oseanografi Terapan dan Manajemen Pesisir pada Pusat Riset dan Atmosfer BRIN, Widodo Pranowo, menjelaskan bahwa awal musim kemarau memicu pergerakan Angin Timuran yang kuat. Angin ini mendorong massa air permukaan laut ke arah lepas pantai.

Nah, air permukaan yang menjauh ini kemudian tergantikan oleh massa air dingin dari lapisan yang lebih dalam. Air dari kedalaman ini kaya akan nutrien penting.

“Massa air yang terangkat ini membawa ‘pupuk alami’ berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton. Inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita,” jelas Widodo seperti dikutip Sabtu (16/3).

Singkatnya, kekeringan di darat berpotensi menghidupkan kesuburan di laut.

Prediksi Peningkatan Hasil Laut 2026

Widodo memprediksi fitoplankton akan mulai berkembang pada April-, melonjak pada Juni 2026, dan mencapai puncaknya pada Juli-Agustus 2026. Kondisi ini diprediksi menarik keberlimpahan ikan pelagis kecil seperti lemuru di Selat Bali.

Baca Juga :  Tryout PPPK 2026 Gratis, Link Latihan Online

“Dinamika laut ini sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim. Jika El Niño 2026 terjadi, potensi penguatan upwelling tidak hanya di selatan Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah perairan lainnya,” imbuhnya.

Artinya, potensi tangkapan ikan bagi nelayan diperkirakan meningkat signifikan.

Fenomena RATU di Selatan Jawa

Berdasarkan kajian riset yang Widodo Pranowo publikasikan dalam Majalah Indo-Maritime 2014, fenomena upwelling di selatan Jawa memiliki karakteristik unik yang dikenal secara internasional dengan sebutan RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling).

Hasil riset tersebut menunjukkan intensitas RATU sangat dipengaruhi oleh dinamika musiman dan variabilitas iklim global. Jadi, fluktuasi iklim sangat berpengaruh pada kondisi laut.

Dalam penelitian tersebut, pemanfaatan Argo Float robot penyelam otomatis yang beroperasi hingga kedalaman 2.000 meter menjadi kunci dalam merekam data profil temperatur dan salinitas secara *real-time*.

Implikasi Upwelling pada Stok Ikan

Hasil menunjukkan bahwa keberadaan lapisan *thermocline* yang terangkat ke atas selama proses upwelling menjadi indikator utama dalam memetakan daerah ikan. Ini sangat membantu nelayan dalam mencari lokasi terbaik.

Riset ini berhasil mengidentifikasi bahwa wilayah Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara merupakan habitat krusial bagi migrasi dan pemijahan ikan ekonomis penting, termasuk Tuna Sirip Biru Selatan (*Southern Bluefin Tuna*), Cakalang, dan Tuna Mata Besar.

Tidak hanya itu, riset juga mencatat sinergi antara Angin Timuran dan fenomena El Niño dapat memperkuat intensitas upwelling, yang secara langsung berdampak pada pelonjakan stok ikan pelagis. Dengan demikian, potensi hasil tangkapan akan semakin besar.

Ancaman Kekeringan dan Ketahanan Pangan 2026

Lebih lanjut, riset ini menyoroti peningkatan risiko kekeringan yang panjang akibat El Nino dan mengancam dari sumber darat. Akan tetapi, ada secercah harapan dari laut.

Baca Juga :  Gerhana Matahari Total Artemis II: Fenomena Langka di Luar Angkasa

Kondisi ini memberikan potensi untuk digantikan oleh sumber pangan dari laut. Dengan kata lain, laut bisa menjadi solusi di tengah ancaman kekeringan.

Kesimpulan

Meskipun berpotensi menyebabkan kekeringan, fenomena upwelling menjanjikan peningkatan kesuburan laut dan stok ikan. Kondisi ini memberikan peluang bagi nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan dan menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman kekeringan. Oleh karena itu, pemantauan dan pemanfaatan fenomena ini jadi penting untuk memaksimalkan potensi sumber daya laut Indonesia.