IPIDIKLAT News – Flores Timur, NTT (Nusa Tenggara Timur), menetapkan status tanggap darurat bencana selama empat bulan menyusul gempa bumi bermagnitudo 4,7. Akibatnya, 1.659 warga terpaksa mengungsi.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur memberlakukan status tanggap darurat mulai 9 April hingga 8 Juli 2026. Penetapan ini merupakan hasil rapat koordinasi dengan forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) pada tanggal yang sama. Maria Goretty Nemo, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, menyampaikan informasi ini melalui keterangan tertulis pada Minggu (12/4).
Fokus Penanganan Tanggap Darurat Gempa
Selama masa tanggap darurat bencana gempa bumi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur akan memfokuskan diri pada pendistribusian bantuan logistik, termasuk tenda dan alas tidur. Bantuan ini ditujukan untuk penanganan kedaruratan para pengungsi yang tersebar di sepuluh desa. Selain itu, BPBD juga akan melakukan pendataan kerusakan akibat gempa bumi yang terjadi.
“Fokus kami saat ini adalah pemberian bantuan bagi warga yang terdampak dan sedang mengungsi. Mereka saat ini mengungsi di rumah warga lainnya secara mandiri serta di lokasi desa masing-masing yang aman,” jelas Maria.
Namun, Maria mengakui bahwa distribusi bantuan masih terbatas. Akibatnya, belum semua pengungsi bisa menerima bantuan yang dibutuhkan. Persediaan di gudang pun sudah menipis bahkan ada yang habis.
Kebutuhan Mendesak Pengungsi Gempa Flores Timur
BPBD Flores Timur masih menghadapi sejumlah kendala dalam memenuhi kebutuhan warga yang berada di pengungsian. Kebutuhan mendesak tersebut meliputi air bersih, perlengkapan mandi dan cuci, sembako, terpal, tikar, perlengkapan bayi dan balita, kasur lipat, kursi roda, serta popok dewasa. Nah, pemenuhan kebutuhan ini menjadi prioritas utama dalam masa tanggap darurat ini.
“Kebutuhan yang mendesak itu adalah air bersih, perlengkapan mandi dan cuci, sembako, terpal, tikar, perlengkapan bayi dan balita, kasur lipat, kursi roda dan pampers dewasa,” ungkapnya.
Dampak Gempa: Ribuan Warga Mengungsi
Tercatat sebanyak 1.659 warga Flores Timur harus mengungsi akibat gempa. Mereka mengungsi baik secara mandiri di rumah warga dan kerabat maupun ke lokasi pengungsian yang telah disediakan di sepuluh desa terdampak.
Jumlah warga terdampak juga mengalami peningkatan. Awalnya, terdapat 285 kepala rumah tangga (1.313 jiwa) yang terdampak. Angka ini naik menjadi 371 kepala rumah tangga atau 1.659 jiwa. Selain itu, 18 orang dilaporkan mengalami luka ringan.
Kerusakan Bangunan Akibat Gempa
Gempa bumi yang mengguncang Flores Timur pada Kamis (9/4/2026) dini hari menyebabkan kerusakan pada 343 bangunan. Kerusakan ini terdiri dari 332 unit rumah warga dan 11 unit fasilitas umum yang tersebar di sepuluh desa. Jadi, perbaikan infrastruktur menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pasca-bencana.
Perluasan Wilayah Terdampak Gempa
Jumlah desa terdampak gempa juga mengalami peningkatan. Awalnya, tercatat delapan desa yang terdampak. Namun, jumlah ini bertambah menjadi sepuluh desa yang terdiri dari tujuh desa di Kecamatan Adonara Timur dan tiga desa di Kecamatan Solor Timur.
Tujuh desa di Kecamatan Adonara Timur tersebut mencakup Desa Terong, Lamahala Jaya, Karing Lamalouk, Dawataa, Ipi Ebang, Desa Bilal, dan Kelurahan Waiwerang Kota. Sementara itu, tiga desa di Kecamatan Solor Timur meliputi Moton Wutun, Watobuku, dan Desa Labelen.
Desa Terparah Terdampak Gempa
Maria menjelaskan bahwa desa yang paling terdampak adalah Desa Terong dan Lamahala Jaya di Kecamatan Adonara Timur. Di Desa Terong, tercatat 110 rumah warga dan tiga fasilitas umum, termasuk musala, Polindes, dan sekolah dasar, mengalami kerusakan. Selain itu, terdapat 147 kepala rumah tangga (621 jiwa) yang terdampak, dengan 17 orang mengalami luka ringan.
Sementara itu, di Desa Lamahala Jaya, terdapat 104 rumah warga yang rusak dan 104 kepala rumah tangga (544 jiwa) yang terdampak. Di desa ini, empat fasilitas umum juga mengalami kerusakan, yaitu 1 mushola, 1 masjid, dan 2 sekolah. Satu orang juga dilaporkan mengalami luka ringan.
Penyebab Gempa Flores Timur 2026
Gempa bumi tektonik berkekuatan M4,7 mengguncang Flores Timur, NTT, pada Kamis (9/4/2026) dini hari pukul 00.17:47 WITA. Gempa ini menyebabkan kerusakan dan pengungsian massal di wilayah tersebut. Oleh karena itu, penanganan cepat dan tepat sangat penting untuk meminimalkan dampak negatif bagi masyarakat.
Kesimpulan
Penetapan status tanggap darurat bencana gempa di Flores Timur menjadi langkah penting untuk mempercepat penanganan dampak gempa. Bantuan logistik, pendataan kerusakan, dan pemenuhan kebutuhan mendesak pengungsi menjadi fokus utama. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar Flores Timur dapat segera bangkit kembali.
