IPIDIKLAT News – Perencanaan ibadah haji menjadi semakin krusial bagi umat Muslim di Indonesia. Pasalnya, antrean haji reguler yang panjang kerap kali membuat calon jamaah mencari alternatif lain, seperti haji plus. Akan tetapi, memilih antara tabungan haji reguler dan plus memerlukan pertimbangan matang agar sesuai dengan kemampuan finansial dan prioritas masing-masing individu di tahun 2026.
Meskipun haji reguler menawarkan biaya yang lebih terjangkau, masa tunggu yang bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, haji plus menawarkan waktu keberangkatan yang lebih singkat, tetapi dengan konsekuensi biaya yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penting bagi calon jamaah untuk memahami perbedaan mendasar antara keduanya serta menyusun strategi tabungan yang tepat.
Mengenal Perbedaan Haji Reguler dan Haji Plus per 2026
Perbedaan utama antara haji reguler dan haji plus terletak pada waktu tunggu dan biaya. Haji reguler diselenggarakan oleh pemerintah dengan biaya yang relatif lebih murah, namun masa tunggunya sangat panjang, bisa mencapai 10 hingga 40 tahun, tergantung pada wilayah tempat mendaftar.
Sementara itu, haji plus, yang juga dikenal sebagai haji khusus, diselenggarakan oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) dengan biaya yang lebih tinggi. Sebagai imbalannya, jamaah haji plus mendapatkan waktu tunggu yang lebih singkat, biasanya antara 5 hingga 9 tahun, serta fasilitas dan pelayanan yang lebih baik.
Strategi Tabungan Haji Plus yang Realistis dan Aman
Perencana keuangan, Prita Hapsari Ghozie, menekankan pentingnya perencanaan keuangan yang matang sebelum memutuskan untuk mengambil jalur haji plus. Ia menyarankan agar calon jamaah tidak tergiur dengan pinjaman online atau skema pembiayaan yang berisiko demi mempercepat keberangkatan.
Prita menyarankan agar calon jamaah mengamankan porsi haji terlebih dahulu, kemudian membangun kebiasaan menabung secara konsisten. Dengan cara ini, calon jamaah tidak hanya mengejar keberangkatan lebih cepat, tetapi juga menjaga stabilitas keuangan keluarga.
Tips Menabung Dana Haji Secara Konsisten
Salah satu tantangan terbesar dalam mengumpulkan dana haji adalah konsistensi. Banyak orang merasa sulit menabung karena pengeluaran gaya hidup yang terus meningkat. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan prioritas dan memperlakukan dana haji sebagai tujuan utama, bukan sisa dari pengeluaran bulanan.
Menabung secara bertahap, disiplin, dan sesuai kemampuan jauh lebih aman daripada memaksakan diri dengan utang. Pendekatan ini juga memberi ruang untuk memahami ritme keuangan pribadi tanpa tekanan berlebihan.
Haji Furoda: Alternatif Berangkat Haji Tanpa Antre
Selain haji reguler dan haji plus, terdapat pula opsi haji furoda yang memungkinkan calon jamaah untuk berangkat haji tanpa antre. Haji furoda diselenggarakan melalui undangan langsung dari Pemerintah Arab Saudi dan menggunakan visa mujamalah.
Namun, biaya haji furoda sangat tinggi, mulai dari USD 19.000 hingga USD 60.000. Meskipun menawarkan keberangkatan yang cepat dan fasilitas eksklusif, calon jamaah perlu berhati-hati dalam memilih penyelenggara haji furoda agar tidak menjadi korban penipuan.
Biaya Haji 2026: Reguler, Plus, dan Furoda
Berdasarkan informasi terbaru 2026, biaya haji reguler diperkirakan sekitar Rp 90 juta, dengan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dibayar oleh calon jamaah sekitar Rp 55 juta. Sementara itu, biaya haji plus berkisar antara Rp 190 juta hingga Rp 730 juta, tergantung pada fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan oleh PIHK.
Untuk haji furoda, biayanya jauh lebih tinggi, yaitu antara Rp 300 juta hingga Rp 900 jutaan. Dengan demikian, calon jamaah perlu mempertimbangkan dengan cermat kemampuan finansial dan prioritas masing-masing sebelum memilih jenis haji yang sesuai.
Kemenag Janji Tidak Alihkan Kuota Haji Reguler ke Haji Plus di 2026
Kementerian Agama (Kemenag) telah berjanji untuk tidak mengalihkan kuota tambahan haji reguler untuk haji plus pada tahun 2026, seperti yang terjadi pada tahun 2024. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa kuota haji reguler dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat yang telah lama mengantre.
Meskipun demikian, Kemenag tetap membuka peluang bagi penyelenggaraan haji plus dan furoda, dengan ketentuan bahwa kuota yang dialokasikan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Kesimpulan
Memilih antara tabungan haji reguler dan haji plus memerlukan pertimbangan yang matang terkait kemampuan finansial, waktu tunggu, dan fasilitas yang diinginkan. Bagi calon jamaah yang memiliki anggaran terbatas dan bersedia menunggu lebih lama, haji reguler bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun, bagi mereka yang menginginkan keberangkatan lebih cepat dan fasilitas yang lebih baik, haji plus atau haji furoda bisa menjadi alternatif yang menarik. Yang terpenting, pastikan untuk merencanakan keuangan dengan cermat dan memilih penyelenggara haji yang terpercaya agar ibadah haji dapat berjalan lancar dan mabrur.
