IPIDIKLAT News – Pengamat pasar modal, Reydi Octa, memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak sideways atau mendatar, dengan kecenderungan menguat tipis pada pekan depan, per April 2026. Prediksi pergerakan IHSG ini terjadi karena pasar belum sepenuhnya keluar dari fase konsolidasi pasca-sentimen global dan domestik.
Reydi Octa menambahkan investor cenderung menantikan katalis baru untuk membuat keputusan investasi. Oleh karena itu, strategi memilih saham big caps atau saham dengan kapitalisasi besar menjadi salah satu saran yang relevan dalam kondisi pasar seperti ini.
Prediksi Pergerakan IHSG Terbaru 2026
Reydi Octa memaparkan bahwa IHSG berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan menguat tipis. Pola rebound teknikal setelah tekanan beberapa pekan terakhir menjadi salah satu faktor pendukungnya. Akan tetapi, Reydi menjelaskan rentang pergerakan cenderung terbatas sambil menunggu katalis baru.
“IHSG berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan menguat tipis, dengan pola rebound teknikal setelah tekanan beberapa pekan terakhir, karena pasar belum sepenuhnya keluar dari fase konsolidasi pascasentimen global dan domestik. Rentang pergerakan cenderung terbatas sambil menunggu katalis baru,” ujar Reydi saat dihubungi Antara di Jakarta, Ahad (12/4/2026).
Faktor Global Pengaruhi Pasar Saham
Sentimen dari mancanegara diproyeksikan masih akan memengaruhi arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Pergerakan yield US Treasury, serta dinamika geopolitik dan harga komoditas juga menjadi faktor penentu.
Lebih lanjut, Reydi Octa menambahkan sentimen positif bisa datang dari penguatan bursa global dan meredanya tensi geopolitik. Kondisi ini tentu menjadi angin segar bagi investor yang tengah menantikan momentum untuk berinvestasi.
Faktor Domestik Penentu Arah Investasi
Dari dalam negeri, pelaku pasar akan fokus pada lanjutan respons investor asing terhadap isu MSCI dan kepercayaan pasar terhadap pasar saham domestik. Arah suku bunga Bank Indonesia (BI), perkembangan peringkat dari lembaga penyedia indeks global, data inflasi, serta nilai tukar rupiah juga akan menentukan arus modal asing di pasar domestik.
“Arah kebijakan suku bunga BI, perkembangan peringkat dari indeks global, data inflasi, serta laju nilai tukar rupiah. Kombinasi ini menentukan apakah capital inflow bisa kembali stabil atau justru masih wait and see,” jelas Reydi.
Strategi Investasi: Pilih Saham Big Caps
Dalam kondisi pasar yang cenderung mendatar atau sideways, pemilihan saham yang tepat menjadi kunci untuk meraih keuntungan. Saham big caps atau saham dengan kapitalisasi pasar besar, seringkali menjadi pilihan yang lebih aman karena memiliki fundamental yang kuat dan likuiditas yang tinggi.
Investasi pada saham big caps dapat memberikan stabilitas portofolio di tengah ketidakpastian pasar. Namun, tetap penting untuk melakukan riset dan analisis mendalam sebelum membuat keputusan investasi.
Peristiwa Global Ikut Membayangi
Beberapa peristiwa global yang berpotensi memengaruhi pasar saham, diantaranya:
- Perundingan Iran-AS yang Gagal
- Potensi Trump Memblokir Selat Hormuz
- Pemulihan Kapasitas Pipa Minyak Arab Saudi
- Pembatasan Kapal di Selat Hormuz oleh Iran
Perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global ini perlu investor cermati dalam membuat keputusan investasi.
Kesimpulan
Meskipun IHSG diprediksi bergerak sideways, peluang investasi tetap terbuka. Pemilihan saham big caps dengan fundamental yang kuat, serta pemantauan terhadap sentimen global dan domestik, menjadi strategi yang bijak. Investor diharapkan tetap waspada dan terus memperbarui informasi terkait perkembangan pasar modal terbaru 2026.
