IPIDIKLAT News – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait meninjau Rusun Cinta Kasih Tzu Chi di Cengkareng bersama pemilik Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Sugianto Kusuma atau Aguan, pada Ahad, 5 April 2026. Kunjungan tersebut bertujuan memantau penerapan model rusun terintegrasi yang menggabungkan aset negara dengan pengelolaan pihak swasta untuk kebutuhan hunian perkotaan yang berkualitas.
Model ini menjawab tantangan keterbatasan lahan di kota besar dengan mengoptimalkan aset pemerintah tanpa mengabaikan aspek profesionalisme. Pemerintahan saat ini terus mendorong kolaborasi antara sektor publik dan swasta demi mempercepat penyediaan hunian yang layak bagi masyarakat.
Penerapan Model Rusun Terintegrasi Maruarar Sirait
Maruarar Sirait menekankan bahwa Rusun Cinta Kasih Tzu Chi di Cengkareng menjadi percontohan ideal pembangunan hunian vertikal saat ini. Pemerintah memanfaatkan tanah milik negara untuk kepentingan rakyat, sementara pihak swasta mengatur operasional harian agar kualitas layanan tetap terjaga optimal. Langkah seperti ini memastikan keberlanjutan pengelolaan hunian dalam jangka panjang.
Selain menyediakan unit tempat tinggal, konsep rusun ini menghadirkan ekosistem pendukung yang lengkap. Fasilitas yang tersedia mencakup sarana pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah, layanan kesehatan, ruang terbuka hijau, hingga area usaha bagi warga. Integrasi ini mendukung aktivitas ekonomi sekaligus sosial penghuni secara langsung.
Replikasi Rusun di Wilayah Strategis
Kepala Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) Dony Oskaria berencana mereplikasi konsep hunian ini di berbagai daerah. BP BUMN saat ini sedang menyusun pemetaan lokalisasi potensial agar pembangunan perumahan nasional berjalan lebih cepat. Pihaknya akan menyerahkan daftar lokasi tersebut kepada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Berikut adalah fokus wilayah prioritas untuk pengembangan hunian serupa pada tahap awal di tahun 2026:
| Prioritas Wilayah | Target Sektor |
|---|---|
| Jabodetabek | Perumahan Padat |
| Bandung | Hunian Vertikal |
| Surabaya | Aset Potensial |
| Medan | Pengembangan Lahan |
| Makassar | Perumahan Rakyat |
Kerjasama Strategis Pengelolaan Aset
Plt Direktur Utama Perum Perumnas, Imelda Alini Pohan, menjelaskan teknis kerja sama pada proyek di Cengkareng ini. Pihaknya memanfaatkan aset negara seluas satu hektare yang mencakup total 1.100 unit hunian. Perumnas membangun rusun ini pada tahun 2022 sebagai solusi hunian di kawasan padat.
Kerangka kerja sama ini melibatkan Yayasan Buddha Tzu Chi selama 25 tahun ke depan agar pengelolaan berjalan profesional. Imelda menegaskan bahwa durasi kerjasama panjang ini menjamin stabilitas dan pemeliharaan gedung tetap terjaga secara berkelanjutan. Dengan demikian, warga penghuni bisa menikmati fasilitas dalam lingkungan yang terjaga kualitasnya.
Pendekatan Sosial Aguan dalam Pengelolaan Hunian
Sugianto Kusuma atau Aguan menekankan bahwa keberhasilan hunian vertikal tidak hanya terletak pada struktur bangunan, melainkan juga aspek sosial. Pendekatan komunitas menjadi kunci agar setiap penghuni merasa memiliki tanggung jawab bersama terhadap kebersihan dan ketertiban lingkungan rusun. Lingkungan yang tertata bersih akan mendukung kesehatan fisik maupun mental warga.
Lebih dari itu, interaksi antarwarga yang saling peduli membangun komunitas yang harmonis di Cengkareng. Rusun ini menjadi ruang pembentukan komunitas yang positif dan berkelanjutan bagi masyarakat perkotaan. Pemerintah berharap model seperti ini terus berkembang di berbagai lokasi sebagai standar baru hunian layak bagi kelas menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah di masa depan.
Pada akhirnya, efektivitas model rusun terintegrasi ini membuktikan bahwa sinergi antara pemerintah dan swasta bisa memberi dampak riil bagi warga. Komitmen pemerintah dalam menyediakan hunian yang terpadu dengan ekosistem sosial menjadi fondasi kemajuan hunian masyarakat 2026. Langkah ini mempertegas bahwa rumah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat komunitas tumbuh dan berkembang secara sehat.
