IPIDIKLAT News – Proses rekonstruksi Candi Losari terus berjalan sejak awal Februari 2026 di Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Pemugaran menyeluruh ini melibatkan pembongkaran struktur candi hingga fondasi, dengan tujuan memperkuat bangunan yang selama ini berdiri di atas tanah yang kurang stabil. Candi Losari, candi Hindu yang unik, sebagian besar strukturnya terpendam di bawah tanah akibat material letusan Gunung Merapi.
Rekonstruksi Candi Losari ini menjadi perhatian karena kompleksitas dan tantangan yang ada. Selain kondisi tanah yang labil, keberadaan air di area situs turut menjadi pertimbangan penting dalam proses pemugaran. Tahapan rekonstruksi yang cermat dan bertahap diharapkan dapat mengembalikan keindahan dan keaslian candi ini.
Fokus Rekonstruksi Candi Losari 2026: Kaki Candi
Junawan, penanggung jawab kegiatan rekonstruksi, menjelaskan bahwa fokus pengerjaan tahun 2026 adalah bagian kaki candi. “Target tahun ini sampai lapis ke-14, yaitu bagian kaki dan sebagian tubuh bawah. Jadi belum sampai keseluruhan,” ujarnya pada Senin, 30 Maret 2026. Pengerjaan dimulai sejak 2 Februari dan dijadwalkan berlangsung hingga 2 Oktober 2026. Hingga setelah Lebaran, progres terakhir telah mencapai lapisan kesembilan.
Sebelum pelaksanaan, tim juga telah melakukan studi kelayakan dan teknis untuk memastikan metode rekonstruksi yang tepat. Berbeda dengan pemugaran biasa, rekonstruksi Candi Losari dilakukan dengan pembongkaran total hingga lapisan paling bawah. Langkah ini diambil karena struktur candi sebelumnya mengalami penurunan akibat berbagai faktor, termasuk bencana alam di masa lampau.
Tantangan dan Solusi dalam Rekonstruksi
Satu tantangan utama dalam rekonstruksi Candi Losari adalah kondisi tanah yang cenderung basah. Pada kedalaman sekitar 20 sentimeter saja, air sudah mulai muncul di area situs. Meski demikian, kondisi tersebut tidak dianggap mengganggu struktur utama karena bagian tersebut nantinya menjadi fondasi yang tidak terlihat di permukaan.
Tim pemugar melakukan penanganan khusus agar air tidak meresap ke bagian atas bangunan melalui proses kapilarisasi. “Kita lakukan treatment di pondasi supaya air tidak naik ke struktur atas,” terang Junawan. Dengan demikian, ancaman kerusakan akibat air dapat diminimalisir dan struktur candi yang baru dapat bertahan lebih lama.
Tahapan Rekonstruksi dan Kehati-hatian
Meski ditargetkan rampung pada Oktober 2026, tahap rekonstruksi ini baru mencakup bagian awal dari keseluruhan proyek. Tahapan selanjutnya akan dilakukan setelah seluruh data teknis dan susunan struktur terkumpul secara lengkap. Jadi, penyelesaian rekonstruksi Candi Losari memerlukan waktu yang panjang dan proses yang hati-hati.
Junawan menegaskan, proses ini tidak bisa dilakukan tergesa-gesa karena menyangkut keaslian dan ketepatan struktur candi. “Nanti setelah data lengkap dan susunan sudah pasti, baru kita lanjut ke tahap berikutnya,” paparnya. Kehati-hatian ini penting untuk memastikan bahwa Candi Losari direkonstruksi dengan benar dan sesuai dengan aslinya.
Faktor Alam dan Kondisi Tanah
Juru pugar, Restu Hidayat, mengutarakan bahwa kondisi Candi Losari yang amblas diduga kuat akibat kombinasi bencana alam, seperti gempa bumi dan terjangan lahar dingin Gunung Merapi. Selain itu, kondisi tanah yang kurang padat turut memperparah penurunan struktur candi. “Strukturnya turun karena faktor alam, kemungkinan dari gempa dan lahar dingin,” jelasnya.
Candi Losari diketahui memiliki sekitar 15 lapisan dengan tinggi awal diperkirakan mencapai enam meter. Saat ini, pembongkaran dan penyusunan ulang baru mencapai sebagian lapisan. Di sekitar candi utama, terdapat tiga candi perwara yang melengkapi kompleks tersebut. Keberadaan candi perwara ini menambah nilai sejarah dan arkeologis dari situs Candi Losari.
Potensi Temuan Material Candi Lainnya
Menariknya, tim juga menemukan indikasi masih banyak material candi yang tertimbun di area sekitar, terutama di sisi selatan dan barat. Hal ini membuka peluang adanya temuan lanjutan dalam proses penggalian ke depan. Kemungkinan adanya bagian-bagian candi lainnya yang masih tersembunyi di dalam tanah menjadi daya tarik tersendiri bagi para arkeolog dan sejarawan.
“Masih ada banyak batu di bawah, kemungkinan bagian dari reruntuhan candi aslinya,” ujar Restu. Temuan ini memberikan harapan bahwa rekonstruksi Candi Losari dapat mengungkap lebih banyak informasi tentang sejarah dan peradaban masa lalu di wilayah Magelang.
Keterlibatan Masyarakat Lokal dalam Rekonstruksi
Proyek rekonstruksi ini melibatkan tim gabungan, termasuk tenaga ahli dari kawasan Prambanan serta warga lokal sekitar situs. Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam proses pemugaran, sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi lingkungan sekitar. Dengan demikian, rekonstruksi Candi Losari tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
Kesimpulan
Rekonstruksi Candi Losari terus berjalan dengan fokus pada penguatan fondasi dan struktur bangunan. Meskipun menghadapi tantangan seperti kondisi tanah yang labil dan potensi temuan material candi lainnya, proyek ini diharapkan dapat mengembalikan keindahan dan keaslian candi Hindu ini. Keterlibatan masyarakat lokal juga menjadi kunci penting dalam kesuksesan rekonstruksi Candi Losari per 2026 ini.
