IPIDIKLAT News – Sebanyak 731 praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) melaksanakan kegiatan gotong royong pemulihan situs bersejarah Istana Benua Raja di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, pada Sabtu, 4 April 2026. Para praja ini terjun langsung menangani endapan lumpur sisa banjir besar yang menerjang wilayah tersebut sejak akhir November 2025.
Kegiatan ini menjadi bagian integral dari program Praktik Kerja Lapangan (PKL) gelombang ketiga yang Kementerian Dalam Negeri laksanakan. Para praja fokus membersihkan 42 titik lokasi, termasuk pemukiman warga, saluran drainase, hingga bangunan cagar budaya yang menjadi simbol sejarah kerajaan Islam di Aceh tersebut.
I Gusti Ngurah Erlang AW, salah satu Praja Pratama IPDN angkatan 36 kontingen Bali, memimpin upaya pengerukan lumpur yang sudah mengeras di area Istana Benua Raja. Dengan menggunakan sekop dan kereta dorong, ia bersama rekan-rekannya menyisir lorong-lorong bangunan guna memastikan situs bersejarah ini kembali bersih dari sisa material banjir.
Misi Kemanusiaan Praja IPDN di Aceh Tamiang
Penugasan ini membawa makna mendalam bagi para praja. Lebih dari sekadar pemenuhan syarat akademis, pihak institusi mengarahkan gelombang ketiga PKL ini untuk memperkuat keterlibatan langsung di tengah masyarakat. Hal ini sekaligus menjadi sarana menumbuhkan rasa empati dan tanggung jawab sosial bagi para calon aparatur sipil negara di masa depan.
Erlang menyatakan kebanggaan pribadinya saat terlibat langsung dalam misi kemanusiaan ini. Baginya, penugasan di daerah bencana Aceh memberikan pengalaman berharga yang tidak akan ia temukan di ruang kelas. Ini merupakan kesempatan pertama bagi sebagian besar praja untuk hadir langsung membantu penyintas bencana di wilayah tersebut.
Selain lokasi situs, para praja juga menyasar rumah-rumah warga yang masih menyimpan sisa lumpur setinggi empat hingga lima meter. Sinergi antara pemerintah pusat dan tenaga muda IPDN ini bertujuan mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana agar kehidupan warga kembali normal secepat mungkin.
Peran Strategis Satgas PRR dalam Pemulihan
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, secara langsung memimpin pembukaan kegiatan ini. Ia menegaskan pentingnya kerja keras para praja mengingat tingkat kerusakan infrastruktur di Aceh Tamiang tergolong berat akibat endapan lumpur yang masif.
Tito menginstruksikan agar setiap praja memberikan kontribusi maksimal dalam membersihkan sarana publik. Berikut rincian fokus penugasan para praja di Aceh Tamiang berdasarkan arahan Satgas PRR:
| Kategori Lokasi Pembersihan | Target Kegiatan |
|---|---|
| Situs Sejarah | Pembersihan endapan lumpur mengeras di Istana Benua Raja |
| Pemukiman Warga | Ekskavasi material sisa banjir di perumahan penduduk |
| Infrastruktur Umum | Normalisasi jalan desa dan alur drainase terdampak |
Tito menjelaskan kebijakan ini hadir sebagai upaya konkret pemerintah menghadapi tantangan pemulihan pascabencana. Meski lumpur sudah mengeras, semangat para praja di lapangan memberikan harapan baru bagi masyarakat setempat. Dengan demikian, percepatan pemulihan ekonomi dan lingkungan di Aceh Tamiang dapat berjalan sesuai target yang pemerintah tetapkan.
Pentingnya Pelestarian Situs Bersejarah
Istana Benua Raja memegang peranan krusial sebagai simbol sejarah. Upaya pembersihan ini tentu bukan hanya aktivitas fisik semata, melainkan tindakan menjaga marwah sejarah kerajaan Islam. Apakah menjaga situs ini tidak menjadi cerminan bentuk bakti praja terhadap warisan budaya bangsa?
Tentu saja, langkah nyata ini memberikan pesan kuat mengenai betapa pentingnya bersinergi saat krisis melanda. Selanjutnya, para praja akan terus bergerak hingga seluruh area yang ditentukan benar-benar bebas dari sisa material banjir. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata pengabdian tanpa batas bagi ibu pertiwi dalam situasi darurat.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan ini menunjukkan komitmen IPDN dalam membangun karakter praja yang tangguh. Melalui kerja keras di Aceh Tamiang, praja tidak hanya belajar teori pemerintahan, tetapi juga mempraktikkan langsung jiwa kepemimpinan di lapangan yang sesungguhnya.
