IPIDIKLAT News – Ratusan Praja IPDN melaksanakan misi kemanusiaan dengan membersihkan lumpur di situs bersejarah Istana Benua Raja, Aceh Tamiang, pada Senin 6 April 2026. Para praja angkatan 36 ini terjun langsung menyingkirkan sisa material banjir guna mengembalikan kejayaan situs kerajaan Islam tertua di wilayah tersebut.
Erlang, salah satu Praja Pratama, memimpin rekan-rekannya menyisir setiap sudut lorong bangunan bersejarah tersebut. Mereka membawa sekop serta kereta dorong untuk mengangkut tumpukan lumpur tebal yang mengeras pascabencana banjir yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 lalu.
Selain lokasi sejarah, para siswa Sekolah Kepamongprajaan ini juga menyasar puluhan titik di pemukiman penduduk. Pemerintah pusat mengirimkan total 730 praja untuk menuntaskan pembersihan di 42 titik lokasi yang masih terdampak sisa banjir ekstrem.
Aksi Nyata Praja IPDN dalam Pemulihan Pasca Bencana
Praktik Kerja Lapangan (PKL) gelombang ketiga ini memberikan pengalaman lapangan yang sangat berharga bagi para praja. Tidak hanya belajar teori, mereka juga merasakan langsung beratnya beban hidup penyintas bencana di Aceh Tamiang pada tahun 2026.
Erlang mengaku sangat bangga bisa memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat setempat. Baginya, tugas ini melampaui sekadar kewajiban akademis karena mereka membawa semangat kemanusiaan untuk meringankan penderitaan penduduk yang terdampak banjir.
Meski terik matahari menyengat kulit, antusiasme para praja tetap tinggi. Mereka bekerja tanpa rasa lelah sepanjang hari. Kondisi lapangan yang menantang justru mengasah mental serta kedisiplinan para calon abdi negara ini.
Target Pembersihan Sisa Banjir Aceh Tamiang 2026
Upaya pembersihan ini mencakup skala yang cukup luas. Kementerian Dalam Negeri membagi tugas para praja ke berbagai sektor vital agar pemulihan pascabencana berjalan optimal. Berikut daftar sebaran tugas para praja selama masa PKL 2026:
| Lokasi Fokus Pembersihan | Kategori Penugasan |
|---|---|
| Istana Benua Raja | Situs Bersejarah |
| Pemukiman Penduduk | Fasilitas Umum & Hunian |
Faktanya, inisiatif ini menunjukkan kepedulian mendalam dari instansi pendidikan terhadap kondisi kedaerahan. Dengan demikian, sinkronisasi antara kebutuhan masyarakat dan pengabdian praja terwujud secara harmonis di lapangan.
Membangun Jiwa Kemanusiaan Melalui Pengabdian
Menariknya, penugasan di Aceh Tamiang menjadi momentum pertama bagi kebanyakan praja untuk berhadapan langsung dengan dampak bencana alam. Pengalaman ini membentuk karakter praja agar lebih sigap serta tanggap dalam menghadapi situasi darurat di masa depan.
Banyak dari praja menyatakan kebahagiaan mereka karena bisa terlibat langsung dalam pemulihan pascabencana. Hal ini menguatkan jati diri mereka sebagai pelayan masyarakat yang siap sedia kapan pun negara membutuhkan tenaga di daerah bencana.
Selanjutnya, fokus utama pemerintah daerah tetap pada percepatan normalisasi akses di titik-titik yang masih tertutup. Kerjasama antara tim lapangan dan praja IPDN mempercepat proses pembersihan secara signifikan sepanjang bulan April 2026.
Menjaga Kelestarian Situs Sejarah
Situs Istana Benua Raja merupakan peninggalan berharga yang menjadi kebanggaan masyarakat lokal. Oleh karena itu, para praja berupaya ekstra keras membersihkan setiap material lumpur tanpa merusak struktur asli bangunan tua tersebut.
Selain melakukan pembersihan, kehadiran mereka juga memberikan dampak psikologis positif. Warga merasa terbantu dengan kehadiran para praja yang ikut menata kembali lingkungan tempat tinggal mereka pasca terjangan banjir besar.
Pada akhirnya, aksi ini membuktikan bahwa dedikasi tinggi mampu membuahkan hasil nyata bagi pelestarian budaya. Praja IPDN angkatan 36 telah menunjukkan komitmen luar biasa dalam menjalankan tugas kemanusiaan di Aceh Tamiang, yang akan terus terkenang oleh para penyintas bencana di wilayah tersebut.
