IPIDIKLAT News – NASA berencana mengirim kembali astronaut ke Bulan pada 2026 menggunakan pesawat ruang angkasa Orion. Misi bersejarah ini menandai kembalinya manusia ke satelit alami Bumi setelah lebih dari setengah abad.
Orion Multi-Purpose Crew Vehicle menjadi andalan NASA untuk membawa empat astronaut dalam misi Artemis II. Para astronaut yang terpilih adalah Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Selain itu, wahana antariksa ini juga direncanakan mengantarkan manusia kembali menginjakkan kaki di Bulan untuk kedua kalinya pada akhir dekade 2020-an. Lantas, apa saja fakta menarik dari pesawat Orion ini?
Misi Orion Terbaru 2026: Mengelilingi Bulan
Misi Artemis II menggunakan pesawat Orion direncanakan meluncur pada Rabu, 1 April 2026 (jika sesuai jadwal). Targetnya, misi ini akan mengorbit Bulan selama 10 hari sebelum kembali ke Bumi.
Perjalanan Orion terbilang panjang. Pesawat ini sukses dalam uji terbang perdana pada 2014. Kemudian, mencetak sejarah melalui misi tanpa awak Artemis I pada akhir 2022 lalu. Saat itu, Orion berhasil mengorbit Bulan dan kembali ke Bumi dengan selamat.
Kini, Orion selangkah lagi membawa empat astronaut kru Artemis II mengelilingi Bulan. Melansir Space, wahana antariksa ini merupakan hasil kerja sama NASA dan Lockheed Martin.
Desain dan Spesifikasi Orion: Lebih Modern dari Apollo
Secara visual, Orion sekilas mirip kapsul Apollo. Akan tetapi, Orion hadir dengan versi yang jauh lebih modern. Diameter Orion mencapai 5,2 meter dengan tinggi 15 meter. Pesawat ini mampu menampung empat astronaut dengan ruang huni 1,5 kali lebih luas dari Apollo.
Meskipun terlihat besar, massa kapsul Orion untuk misi Artemis II hanya sekitar 7.770 kilogram. Ini menunjukkan efisiensi material yang optimal untuk kendaraan penjelajah antariksa.
Pesawat Orion mengandalkan empat panel surya besar yang berfungsi sebagai sayap untuk menyuplai listrik selama misi. Dengan sistem pendukung kehidupan canggih, Orion mampu menampung awak secara mandiri hingga 21 hari tanpa bergantung pada stasiun luar angkasa.
Teknologi Navigasi Canggih pada Orion
Di sektor navigasi dan kendali, Orion menawarkan lompatan teknologi signifikan dibandingkan era sebelumnya. Komputer penerbangannya memiliki kecepatan 20.000 kali lipat dari teknologi Apollo. Alhasil, Orion mampu mengelola data dari ribuan sensor secara real-time.
Untuk manuver di ruang hampa, modul layanan dari Eropa menyediakan sistem propulsi kuat dengan 33 mesin. Termasuk mesin utama untuk manuver jarak jauh di sekitar Bulan.
Prioritas Keselamatan Penerbangan Orion
Aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam pengembangan Orion. Selain sistem pembatalan peluncuran (LAS) yang dapat menyelamatkan awak dalam hitungan milidetik jika terjadi keadaan darurat, Orion memiliki sistem redundansi berlapis.
Artinya, jika satu komputer atau sistem daya gagal, sistem cadangan akan memastikan misi tetap aman. Saat kembali ke Bumi, 11 parasut terintegrasi akan bekerja otomatis untuk memperlambat laju pesawat sebelum mendarat di Samudera.
Keterlibatan Lockheed Martin dalam Proyek Orion
Lockheed Martin telah menjadi kontraktor utama Orion sejak memenangkan kontrak senilai US$8,15 miliar (sekitar Rp126,3 triliun per kurs terbaru 2026) pada Agustus 2006, setelah memulai proyek ini sejak 2004.
Awalnya, Orion dikembangkan untuk program Constellation. Akan tetapi, program tersebut dibatalkan pada 2010. Meski begitu, NASA tetap melanjutkan pengembangan Orion untuk misi baru.
“Kami mengambil keputusan ini berdasarkan kemajuan yang telah dicapai hingga saat ini,” kata Doug Cooke, wakil administrator Direktorat Misi Sistem Eksplorasi NASA saat itu, pada 24 Mei 2011.
“Mempertahankan [desain Orion] adalah pilihan yang paling masuk akal,” lanjutnya.
Program ini kemudian bertransformasi menjadi bagian dari program Artemis, yang berfokus pada pendaratan manusia di Bulan. Pemerintahan berikutnya tetap melanjutkan program ini, menjadikan Orion sebagai elemen kunci eksplorasi ruang angkasa NASA.
Interior Modern dan Ergonomis Orion
Interior Orion dilengkapi layar digital modern, kursi ergonomis yang dapat disesuaikan, serta fasilitas tidur dalam kondisi tanpa gravitasi.
“Karena astronaut dengan berbagai ukuran tubuh akan dikirim ke Bulan menggunakan Orion, panel layar dan kursi harus dapat digunakan oleh 99 persen orang,” tulis NASA.
Kesimpulan
Pesawat Orion menjadi harapan baru bagi eksplorasi ruang angkasa dan kembalinya manusia ke Bulan. Dengan teknologi canggih dan fokus pada keselamatan, misi Artemis II diharapkan berjalan sukses dan membuka jalan bagi penjelajahan antariksa lebih lanjut di masa depan. Mari nantikan bersama update 2026 selanjutnya!
