IPIDIKLAT News – Inklusi keuangan di Indonesia per 2026 menunjukkan tren positif dengan menembus angka 80,51 persen. Sayangnya, peningkatan ini belum sejalan dengan tingkat literasi keuangan digital masyarakat yang masih berada di angka 66,46 persen. Kesenjangan ini menjadi perhatian utama Bank Indonesia (BI) yang mengambil langkah proaktif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko dan manfaat transaksi keuangan digital.
Kondisi ini semakin mendesak mengingat besarnya populasi generasi muda yang aktif dalam ekosistem ekonomi digital. Tercatat, generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa (27,94 persen) dan generasi milenial sebanyak 69,9 juta jiwa (25,87 persen) dari total penduduk Indonesia. Lalu, bagaimana cara menutup kesenjangan ini dan meningkatkan literasi keuangan digital?
BI Gencar Edukasi Literasi Keuangan Digital
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Bank Indonesia (BI) memperkuat edukasi pelindungan konsumen dengan meluncurkan Gerai CERDAS PeKA (Cakrawala Edukasi dan Ruang Diskusi Aman untuk Semua Konsumen Indonesia Peduli, Kenali, Adukan) di Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) pada Jumat, 10 April 2026. Gerai ini dirancang sebagai pusat edukasi bagi mahasiswa agar lebih memahami risiko transaksi digital, mulai dari perlindungan data pribadi hingga cara mengenali modus penipuan online.
Kepala Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen BI, Anton Daryono, menjelaskan bahwa pemilihan kampus sebagai target utama didasari oleh peran strategis mahasiswa sebagai pengguna aktif layanan digital. Menurutnya, generasi muda memiliki peran ganda. Tidak hanya menggunakan teknologi secara aktif, namun juga dapat menjadi agen edukasi di lingkungan sekitarnya.
Program ini menjadi bagian dari kampanye nasional Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen (GEBER PK) yang melibatkan berbagai pihak, termasuk regulator, industri keuangan, asosiasi, dan perguruan tinggi. BI menekankan bahwa penguatan literasi adalah fondasi krusial agar pertumbuhan ekonomi digital tidak membuka celah bagi peningkatan kejahatan siber yang merugikan konsumen. Mengingat semakin banyak masyarakat yang menggunakan layanan keuangan digital, pemahaman yang baik tentang risiko dan cara bertransaksi aman menjadi semakin penting.
Kesenjangan Inklusi dan Literasi: Alarm bagi Perguruan Tinggi
Rektor UNS, Hartono, menyoroti adanya kesenjangan yang cukup besar antara penggunaan layanan keuangan digital dan pemahaman masyarakat terkait risiko serta cara penggunaannya secara bijak. Lebih lanjut, Hartono mengungkapkan keprihatinannya atas peningkatan kasus penipuan keuangan digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial.
Ia juga menyampaikan data yang cukup mengkhawatirkan. Sejak akhir tahun 2025 hingga 2026, tercatat lebih dari 225 ribu laporan kasus penipuan keuangan, dengan total kerugian mencapai sekitar Rp 4,6 triliun. Tak hanya itu, ribuan pengaduan masyarakat terkait pinjaman online ilegal terus bermunculan. Hal ini menjadi indikasi bahwa masih banyak masyarakat yang terjerat layanan keuangan tidak resmi dan berisiko tinggi.
Oleh karena itu, Hartono menegaskan bahwa literasi keuangan digital wajib menjadi perhatian bersama. Kehadiran Gerai CERDAS PeKA hasil kolaborasi DANA Indonesia dan Sekolah Vokasi UNS diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan ini. Dengan adanya gerai ini, diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun generasi muda yang cerdas dalam bertransaksi digital, mengenali risiko keuangan, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi finansial.
Peran Industri dalam Meningkatkan Literasi Digital
Dari sisi industri, Chief of Legal and Compliance DANA, Dina Artarini, menilai bahwa percepatan adopsi layanan digital justru meningkatkan kerentanan pengguna, terutama generasi muda yang cenderung memiliki pola konsumsi serba cepat. Ia menekankan bahwa pertumbuhan transaksi digital yang pesat perlu diimbangi dengan pemahaman yang kuat dari pengguna, khususnya terkait keamanan dan perlindungan diri.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia, Firlie Ganinduto, melihat kampus sebagai kanal paling efektif untuk memperluas literasi keuangan. Dengan sekitar 9,9 juta mahasiswa di lebih dari 4.000 perguruan tinggi, edukasi dapat dilakukan secara masif dan berkelanjutan. Penguatan literasi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan terhadap ekosistem digital nasional, sekaligus mendukung agenda jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
Gerai CERDAS PeKA: Platform Edukasi Hybrid
Gerai CERDAS PeKA dikembangkan sebagai platform hybrid yang menggabungkan edukasi luring dan daring. Mahasiswa dapat mengakses materi pelindungan konsumen, mengikuti seminar keamanan digital, hingga berpartisipasi dalam kampanye dan kompetisi inovasi. Ini menjadi langkah konkret untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa dan memberikan pengalaman belajar yang komprehensif.
Meningkatkan Kepercayaan Ekosistem Digital
Dengan literasi yang baik, masyarakat akan lebih mampu dalam berinteraksi dengan layanan keuangan digital. Selain itu, diharapkan masyarakat memiliki rasa percaya kepada pemerintah dan industri bahwa ekosistem digital nasional akan selalu berkembang dengan mengedepankan keamanan dan kenyamanan.
Tantangan Utama: Memastikan Keamanan Bertransaksi
Di tengah meningkatnya penetrasi layanan keuangan digital, tantangan utama kini bukan lagi pada akses, melainkan bagaimana memastikan setiap pengguna memahami risiko dan mampu bertransaksi secara aman. Perlindungan data pribadi, identifikasi modus penipuan, dan pemahaman tentang hak-hak konsumen menjadi fokus utama dalam upaya peningkatan literasi keuangan digital. Upaya ini membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, industri keuangan, lembaga pendidikan, dan masyarakat itu sendiri.
Literasi Keuangan Digital: Investasi Masa Depan
Kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan digital adalah isu krusial yang perlu segera diatasi. Langkah-langkah proaktif yang diambil oleh Bank Indonesia, dukungan dari industri keuangan, serta peran aktif perguruan tinggi menjadi modal penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko dan manfaat transaksi keuangan digital. Dengan literasi yang memadai, masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara optimal dan terhindar dari potensi kerugian akibat kejahatan siber.
Pada akhirnya, peningkatan literasi keuangan digital bukan hanya tentang melindungi konsumen, tetapi juga tentang membangun fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan dan inklusif di Indonesia. Ini adalah investasi masa depan yang akan membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
