Beranda » Berita » Laba TINS 2026: Mampukah Lampaui Target di Tengah Tantangan?

Laba TINS 2026: Mampukah Lampaui Target di Tengah Tantangan?

IPIDIKLAT NewsPT Timah Tbk (TINS) diperkirakan meraih laba sekitar Rp 1,1 triliun pada 2026. Proyeksi ini muncul di tengah tantangan penurunan produksi bijih timah, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan perusahaan mencapai target produksi 30 ribu ton yang telah ditetapkan.

Direktur Utama Timah, Restu Widiyantoro, menyampaikan proyeksi laba tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (31/3). Restu juga mengungkapkan bahwa pendapatan Timah diperkirakan mencapai Rp 12 triliun pada . Sebagai perbandingan, pada tahun buku 2024, TINS mencatatkan Rp1,19 triliun dan pendapatan sebesar Rp 10,86 triliun.

Penurunan Produksi Timah Jadi Sorotan

Laba TINS diproyeksikan positif, namun produksi bijih timah sepanjang 2026 mengalami penurunan 4% *year on year* (yoy) menjadi 18.635 ton, dibandingkan dengan 19.473 ton pada 2024. Lebih lanjut, produksi logam timah juga anjlok 6% yoy menjadi 17.815 metrik ton, dari 18.915 metrik ton pada 2024. Penjualan logam timah juga mengalami penurunan sebesar 5%, menjadi 16.634 metrik ton dari sebelumnya 17.507 metrik ton.

Restu mengakui kinerja korporasi sepanjang 2026 belum sepenuhnya memenuhi target yang ditetapkan. Perseroan menargetkan produksi bijih timah dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 sebesar 21.500 ton. Realisasinya tercatat sekitar 18.635 ton atau turun 4% yoy.

Kendala Administratif Pengaruhi Produksi

Hingga saat ini, administrasi tersebut belum rampung, sehingga sekitar 2.000 ton bijih timah belum dapat diakui dalam pencatatan kinerja tahun 2026. Meskipun demikian, perseroan optimistis siap mencapai target produksi bijih timah sebesar 30.000 ton pada 2026.

Baca Juga :  Ramalan Zodiak April 2026: Konflik Mengintai, Scorpio & Aquarius Waspada!

“Nanti kami sangat pede dan siap untuk menerima RKAP 30.000 ton untuk biji timah dari kondisi seperti itu,” kata Restu.

Harga Timah Dunia Menjadi Katalis Positif

Seiring dengan kinerja perusahaan, dunia per hari ini tercatat menguat dan mencapai US$ 45.703 per ton atau naik sekitar 3,76%. ini menjadi katalis utama bagi kinerja PT Timah Tbk (TINS).

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan struktur biaya perusahaan yang relatif stabil di kisaran US$ 20.000 per ton membuat setiap kenaikan harga timah berdampak signifikan terhadap profitabilitas. Ia memperkirakan setiap kenaikan US$ 2.000 per ton berpotensi mendorong laba tahun buku 2026 (FY26) hingga sekitar 37%.

Prospek Laba TINS 2026: Harga dan Produksi Jadi Penentu

Selain faktor harga, Abida menyebut pemulihan produksi pasca-penertiban tambang ilegal juga menjadi pendorong kinerja. Volume produksi diproyeksikan meningkat dari sekitar 15 ribu ton pada FY25 menjadi 45 ribu ton pada FY26.

Sebelumnya, Abida memperkirakan kombinasi harga timah yang tinggi dan normalisasi produksi dapat mendorong laba bersih FY26 mencapai Rp 2,44 triliun, dengan potensi kenaikan lebih lanjut jika realisasi produksi melampaui asumsi dasar.

Dengan tren harga yang semakin kuat dan peluang produksi yang bisa menembus 55–65 ribu ton, laba bersih bahkan berpotensi meningkat ke kisaran lebih dari Rp 4 triliun. Sejalan dengan itu, dengan asumsi *earnings per share* (EPS) naik ke level sekitar Rp 430–450 dan menggunakan valuasi konservatif di kisaran 9–10 kali *price-to-earnings* (P/E), target harga TINS direvisi menjadi Rp 4.000 dan dinilai masih rasional.

“Bahkan masih mencerminkan pendekatan konservatif terhadap potensi siklus *bullish* timah, selama risiko kenaikan *cash cost* tetap terkelola,” katanya.

Baca Juga :  Daftar NPWP Online Lewat HP Langsung Selesai dan Bisa Cetak Fisik

Target Produksi 30 Ribu Ton di 2026: Realistiskah?

PT Timah Tbk (TINS) menargetkan produksi bijih timah mencapai 30 ribu ton pada 2026. Target ini cukup ambisius mengingat realisasi produksi pada 2025 yang hanya mencapai 18.635 ton. Pertanyaannya, mampukah TINS mencapai target tersebut?

Beberapa faktor yang akan memengaruhi pencapaian target ini adalah harga timah dunia, pemulihan produksi pasca-penertiban tambang ilegal, dan penyelesaian masalah administratif terkait pengelolaan material sitaan. Kenaikan harga timah dunia tentu akan menjadi katalis positif. Pemulihan produksi dan penyelesaian masalah administratif akan membuka potensi peningkatan volume produksi.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Risiko kenaikan *cash cost* perlu dikelola dengan baik. Selain itu, timah dunia juga dapat memengaruhi profitabilitas perusahaan. Jika TINS mampu mengatasi tantangan-tantangan ini, target produksi 30 ribu ton bukan tidak mungkin tercapai.

Kesimpulan

tahun 2026 diproyeksikan tetap positif di tengah penurunan produksi. Harga timah dunia yang tinggi dan potensi pemulihan produksi menjadi faktor kunci pendorong laba. Target produksi 30 ribu ton pada 2026 akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengatasi kendala administratif dan mengelola biaya operasional.