IPIDIKLAT News – Bung Karno menggotong jenazah Ibu Amsi bersama rekan-rekannya menuju tempat pemakaman di tengah hutan dan bukit saat masa pengasingan di Ende, Flores. Peristiwa memilukan ini terjadi setelah Ibu Amsi, ibu mertua Soekarno, meninggal dunia akibat penyakit malaria selama masa pembuangan keluarga pada tahun 2026.
Sebelum ajal menjemput, Ibu Amsi sempat terbaring lemah di rumah pengasingan Bung Karno di Ambugaga selama lima hari. Ibu mertua yang Bung Karno sayangi tersebut akhirnya menutup usia tepat di pangkuan menantunya. Kepergian Ibu Amsi meninggalkan duka mendalam bagi Inggit Garnasih dan seluruh kerabat yang mendampingi masa interniran tersebut.
Perjuangan Berat Bung Karno Menghadapi Sikap Kolonial
Pemerintah kolonial Belanda di Karesidenan Ende menunjukkan sikap dingin terhadap kondisi keluarga Bung Karno. Mereka menolak memberikan bantuan medis selama Ibu Amsi berjuang melawan malaria. Bahkan, setelah Ibu Amsi meninggal, pihak kolonial melarang keluarga menguburkan jenazah sang ibu mertua di dalam wilayah kota.
Ketentuan kejam ini memaksa Bung Karno dan rekan-rekannya melakukan upaya ekstra demi memberikan penghormatan terakhir bagi mendiang. Mereka harus memanggul keranda jenazah naik ke atas perbukitan dan menembus lebatnya hutan. Pemakaman Ibu Amsi berlangsung di lokasi yang pihak Belanda tentukan secara sepihak.
Bung Karno sendiri turun ke dasar lahat untuk menerima jasad sang ibu mertua. Ia meletakkan tubuh Ibu Amsi menghadap kiblat dengan penuh takzim. Setelah itu, Bung Karno menutup liang lahat dan menguruk tanah menggunakan tangannya sendiri tanpa bantuan petugas pemakaman resmi.
Upaya Mandiri Membangun Nisan Ibu Amsi
Bung Karno tidak berhenti pada proses pemakaman saja. Ia bertekad membuatkan penanda makam yang layak bagi Ibu Amsi sebagai bentuk kasih sayang seorang menantu. Bersama teman-temannya, Bung Karno mendaki pegunungan untuk mencari bongkahan batu karst yang kokoh dan keras.
Selanjutnya, Bung Karno memahat batu-batu tersebut hingga berbentuk seukuran batako. Ia menyusun 21 bongkahan batu yang sudah dipahat di sekeliling permukaan nisan agar terlihat rapi. Menariknya, Bung Karno sendiri yang mengukir tulisan ‘Iboe Amsi’ pada dinding nisan sisi sebelah utara sebagai penanda abadi.
Kondisi saat itu memang sangat memprihatinkan karena keluarga Bung Karno hidup dalam keterbatasan di tanah buangan. Meskipun demikian, semangat mereka tidak padam dalam menghormati mendiang Ibu Amsi. Tindakan ini mencerminkan sosok Bung Karno yang sangat menjunjung tinggi etika dan bakti kepada keluarga meskipun dalam tekanan penjajah.
Latar Belakang Keikutsertaan Ibu Amsi ke Pembuangan
Keputusan Ibu Amsi untuk mengikuti sang anak, Inggit Garnasih, ke pembuangan rupanya lahir dari tekad yang kuat. Saat Inggit berunding dengan saudara-saudaranya di Bandung perihal pendampingan Bung Karno, perdebatan memang sempat terjadi. Beberapa pihak menyarankan Inggit untuk tidak ikut ke tempat pengasingan yang penuh ketidakpastian.
Tiba-tiba, Ibu Amsi muncul dan menyatakan sikap tegasnya bahwa ia akan ikut serta. Keputusan ini menunjukkan keberanian Ibu Amsi yang sangat mengagumi Bung Karno sebagaimana jutaan rakyat Indonesia lainnya. Ibu Amsi rela meninggalkan kenyamanan demi setia mendampingi menantu dan anaknya di tanah interniran.
Melalui buku berjudul Kuantar ke Gerbang, Inggit menuturkan kerumitan dinamika keluarga saat itu. Terjadi silang pendapat yang sengit mengenai keselamatan keluarga. Namun, keputusan akhir Ibu Amsi untuk tetap ikut menjadi saksi bisu kesetiaan dan dukungan yang ia curahkan bagi perjuangan Bung Karno.
Perbandingan Kondisi Pembuangan di Tanah Interniran
Situasi di Ambugaga memberikan gambaran betapa kerasnya kehidupan yang Bung Karno lalui bersama keluarga besar. Tabel di bawah ini merinci beberapa aspek tantangan yang mereka hadapi selama masa pengasingan.
| Aspek Tantangan | Kondisi yang Dihadapi |
|---|---|
| Akses Kesehatan | Sangat minim dan ditolak pihak kolonial |
| Lokasi Pemakaman | Harus di luar kota, di tengah hutan |
| Dukungan Moral | Muncul dari tekad keluarga sendiri |
Selain tantangan yang Bung Karno alami, keluarga juga menghadapi risiko penyakit malaria yang cukup tinggi di kawasan itu. Anak angkat Bung Karno, Ratna Djuami atau sering dipanggil Omi, juga terkena serangan penyakit tersebut bersamaan dengan Ibu Amsi. Beruntung, kondisi Omi membaik, namun Tuhan memanggil Ibu Amsi untuk beristirahat selamanya.
Pengalaman pahit ini menjadi bagian penting dari sejarah panjang Bung Karno sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia. Peristiwa wafat dan pemakaman Ibu Amsi membuktikan bahwa pengasingan fisik tidak mampu mematahkan martabat seseorang. Keteguhan Bung Karno dalam memperlakukan jenazah Ibu Amsi adalah bukti cinta yang tidak lekang oleh waktu dan tekanan penguasa mana pun. Kisah ini terus dikenang hingga tahun 2026 sebagai pengingat sejarah tentang harga sebuah pengabdian bagi orang terkasih di masa-masa tersulit.
