IPIDIKLAT News – Penggunaan kendaraan listrik (EV) global diproyeksikan mampu menghemat 2,3 juta barel minyak per hari di sepanjang tahun 2026. Bahkan, menurut proyeksi terbaru dari BloombergNEF, angka penghematan ini berpotensi melonjak lebih dari dua kali lipat, mencapai 5,25 juta barel minyak per hari pada lima tahun mendatang.
Analis minyak BloombergNEF, Claudio Lubis, menyatakan bahwa tren peralihan masyarakat ke kendaraan bertenaga baterai diperkirakan semakin masif hingga akhir dekade ini. Alhasil, penghematan bahan bakar fosil pun berpotensi meningkat secara signifikan. Lalu, faktor-faktor apa saja yang mendorong perubahan positif ini?
Penghematan Minyak Terbesar dari Motor Listrik di 2026
Saat ini, perhitungan BloombergNEF menunjukkan bahwa kendaraan roda dua dan roda tiga (sepeda motor listrik) memberikan kontribusi terbesar terhadap penghematan bahan bakar fosil. Pemicunya adalah maraknya pemanfaatan sepeda motor listrik, terutama di negara-negara berkembang yang padat penduduk.
Update 2026 memproyeksikan bahwa adopsi motor listrik menjadi kunci utama penghematan minyak. Kendaraan roda dua dan roda tiga diperkirakan mampu menghemat sekitar 1,14 juta barel minyak per hari. Selain itu, kendaraan pribadi (mobil listrik) menyusul di urutan kedua dengan potensi penghematan 926,8 ribu barel per hari. Bus listrik diperkirakan menghemat 229,8 ribu barel per hari, angkutan umum listrik 217,9 ribu barel per hari, dan truk komersial listrik 194,2 ribu barel per hari.
Proyeksi Penghematan Kendaraan Listrik Lebih Tinggi di 2030
BloombergNEF juga memprediksi bahwa pada tahun 2030, sumber penghematan terbesar akan bergeser ke kendaraan pribadi (mobil listrik). Estimasi menunjukkan bahwa mobil listrik dapat menghemat sekitar 2,09 juta barel minyak per hari. Kendaraan roda dua dan roda tiga diperkirakan menyumbang 1,35 juta barel per hari, angkutan umum listrik 775,1 ribu barel per hari, truk komersial listrik 721,7 ribu barel per hari, dan bus listrik 315,7 ribu barel per hari.
Perbedaan tren ini menunjukkan pergeseran dalam adopsi kendaraan listrik. Artinya, masyarakat tidak hanya beralih ke motor listrik, tetapi juga mulai mempertimbangkan mobil listrik sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Tantangan dan Peluang Adopsi Kendaraan Listrik Global
Meski prospeknya cerah, ada beberapa kebijakan yang berpotensi memperlambat laju penjualan kendaraan listrik global tahun ini. Penghapusan subsidi terkait kendaraan listrik di Cina dan perubahan atau pelonggaran kebijakan penghentian penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) pada 2035 di Eropa menjadi contohnya. Namun, melonjaknya harga bahan bakar akibat konflik geopolitik, seperti perang di Timur Tengah, justru mendorong minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.
Analis di lembaga *think tank* bidang energi EMBER, Daan Walter, berpendapat bahwa kendaraan listrik semakin kompetitif dari segi biaya dibandingkan mobil bertenaga bensin. “Volatilitas harga minyak menandakan kendaraan listrik sebagai pilihan yang masuk akal bagi negara yang ingin melindungi diri dari guncangan masa depan,” kata Walter, seperti dikutip dari Bloomberg.
Asia Terdepan dalam Adopsi Kendaraan Listrik
Berdasarkan analisis EMBER, negara-negara di Asia termasuk yang paling cepat mengadopsi kendaraan listrik. Pada 2026, diproyeksikan Cina mencatatkan 50 persen penjualan mobil berjenis mobil listrik (baterai maupun hibrida *plug in*) untuk pertama kalinya. Vietnam menyusul dengan persentase mencapai 38 persen dan Thailand 21 persen.
Estimasi EMBER menunjukkan bahwa penghematan minyak karena adopsi kendaraan listrik mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari pada 2026, lebih rendah dari estimasi BloombergNEF. Perbedaan ini disebabkan karena EMBER juga memperhitungkan penggunaan BBM oleh mobil listrik jenis hibrida *plug-in*.
Implikasi Ekonomi Adopsi Kendaraan Listrik
Bila rata-rata harga minyak US$80 per barel, EMBER memperkirakan Cina bisa menghemat lebih dari US$28 miliar per tahun karena adopsi kendaraan listrik. Eropa berpotensi menghemat US$8 miliar per tahun, dan India US$600 juta per tahun. Angka ini menunjukkan potensi penghematan yang sangat besar bagi negara-negara yang berinvestasi dalam infrastruktur dan ekosistem kendaraan listrik.
Bagaimana dengan Indonesia? Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah untuk mendukung produksi baterai kendaraan listrik, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain kunci dalam industri kendaraan listrik global. Pemerintah terus mendorong investasi dan pengembangan infrastruktur pendukung, seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di tanah air.
Kesimpulan
Adopsi kendaraan listrik di seluruh dunia terus meningkat, dipicu oleh kesadaran akan pentingnya keberlanjutan dan efisiensi energi. Kendaraan listrik bukan hanya menjadi solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga menawarkan potensi penghematan biaya yang signifikan bagi konsumen dan negara. Dengan terus berinvestasi dalam inovasi dan infrastruktur, dunia dapat mempercepat transisi ke masa depan transportasi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
