IPIDIKLAT News – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, kebijakan work from home (WFH) sehari setiap minggu, bersamaan dengan pembatasan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) per 2026, punya potensi menghemat pengeluaran masyarakat hingga Rp 59 triliun.
Airlangga menyampaikan proyeksi ini dalam konferensi pers daring, Selasa (31/3/2026). Kebijakan WFH, pembatasan penggunaan kendaraan dinas, serta pembatasan perjalanan dinas merupakan respons pemerintah terhadap isu efisiensi energi di tengah konflik global. Lebih dari itu, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam penggunaan BBM demi menekan pengeluaran.
Potensi Hemat BBM Masyarakat dan APBN 2026
Airlangga Hartarto menekankan, penghematan konsumsi BBM masyarakat berpotensi mencapai angka fantastis, yakni Rp59 triliun. Selain itu, kebijakan WFH juga berpotensi menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp6,2 triliun.
Penghematan APBN, menurut Airlangga, berasal dari pengurangan kompensasi BBM. Pemerintah berharap kebijakan ini dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi negara di tengah ketidakpastian global. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan kebijakan WFH setiap Jumat demi efisiensi energi.
Pembatasan Penggunaan Kendaraan dan Perjalanan Dinas
Pemerintah tidak hanya fokus pada WFH. Akan tetapi, pemerintah juga berupaya mengefisienkan mobilitas melalui pembatasan penggunaan mobil dinas. Pembatasan mencapai 50 persen, terkecuali untuk kendaraan operasional dan mobil listrik.
Selain itu, pemerintah turut mendorong penggunaan transportasi publik sebagai alternatif. Lebih dari itu, perjalanan dinas dalam negeri dibatasi hingga 50 persen, sementara perjalanan dinas ke luar negeri bahkan mencapai 70 persen.
Bijak Membeli BBM: Saran Mantan Sopir Angkot
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut memberikan imbauan terkait pembelian BBM. Bahlil mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam membeli BBM. Menurutnya, pengisian 50 liter per hari sudah cukup untuk satu mobil pribadi.
Pengaturan mengenai batas 50 liter per hari ini rencananya akan memanfaatkan fitur barcode yang ada di aplikasi MyPertamina. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memastikan penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran.
“Dalam pandangan kami sebagai mantan sopir angkot, wajar dan bijak itu kalau isi mobil satu hari 50 liter. Itu tangki sudah penuh satu hari. Kita akan mendorong ke sana,” ujar Bahlil dengan gaya khasnya.
Kerja Sama Masyarakat dan Pemerintah untuk Stabilitas Harga Minyak
Bahlil menambahkan, di tengah gejolak harga minyak dunia, pemerintah membutuhkan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat. Salah satunya adalah dengan mendukung kebijakan pengisian BBM secara bijak.
“Yang tidak terlalu penting-penting, kami mohon agar kita juga bisa lakukan dengan bijak,” jelasnya. Pemerintah berharap kesadaran masyarakat untuk berhemat dapat membantu menjaga stabilitas harga minyak di dalam negeri.
Angkutan Umum Tidak Termasuk Pembatasan 50 Liter
Berkaitan dengan pembatasan pembelian BBM, Bahlil memastikan bahwa aturan ini tidak berlaku untuk angkutan umum. Kebijakan 50 liter per hari hanya berlaku untuk kendaraan pribadi.
“Untuk 50 liter per mobil tidak berlaku untuk angkutan trayek, angkutan umum bus. Pasti lebih dari itu. Standar saja,” tegas Bahlil. Pemerintah memahami bahwa angkutan umum memiliki kebutuhan BBM yang berbeda dan tidak bisa disamakan dengan kendaraan pribadi.
Kebijakan Konsumsi BBM Terbaru 2026
Kebijakan terbaru 2026 ini, diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi keuangan masyarakat dan negara. Dengan adanya WFH, pembatasan penggunaan kendaraan dinas, serta imbauan untuk bijak dalam membeli BBM, pemerintah berharap dapat mencapai efisiensi energi yang optimal.
Selain itu, pemerintah juga terus berupaya mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mendorong penggunaan energi baru terbarukan.
Efisiensi Konsumsi BBM Jadi Kunci Hadapi Konflik Global
Konflik global terus menjadi faktor utama yang memengaruhi harga minyak dunia. Oleh karena itu, efisiensi konsumsi BBM menjadi semakin penting untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
Pemerintah mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam upaya penghematan energi. Dengan langkah-langkah kecil seperti WFH, menggunakan transportasi publik, dan bijak dalam membeli BBM, kita dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Kesimpulan
Intinya, kebijakan WFH dan pembatasan pembelian BBM per 2026 bukan sekadar aturan, melainkan upaya bersama untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan global. Penghematan yang dihasilkan tidak hanya menguntungkan kantong pribadi, tetapi juga APBN, memberikan ruang lebih untuk pembangunan di sektor lain. Mari bijak dalam penggunaan BBM, demi masa depan yang lebih baik.
