IPIDIKLAT News – Harga bensin di Amerika Serikat (AS) melonjak hingga menembus US$4 per galon, atau setara dengan Rp68 ribu, pada Maret 2026. Lonjakan harga bensin ini merupakan yang pertama kali sejak Agustus 2022, dipicu oleh ketegangan geopolitik global, termasuk konflik antara Iran dengan AS dan Israel.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ini terjadi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi global akibat perang yang berlangsung sejak akhir Februari. Selain itu, potensi penutupan Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak utama dunia, juga memperburuk situasi.
Pemicu Lonjakan Harga Bensin AS
Data dari GasBuddy menunjukkan bahwa kenaikan harga ini mengikuti pola yang mirip dengan krisis sebelumnya. Level US$4 per galon terakhir kali terjadi pada Agustus 2022, pasca invasi Rusia ke Ukraina yang mengganggu pasar energi global saat itu. Para ahli menilai level harga ini sebagai ambang psikologis bagi konsumen.
Lonjakan harga energi secara umum turut mendorong kenaikan harga berbagai barang lain, karena biaya produksi dan distribusi ikut meningkat. Akibatnya, beban keuangan rumah tangga di AS kian bertambah, di tengah tekanan biaya hidup yang sudah tinggi.
Dampak Ekonomi dan Politik Kenaikan Harga Bensin
Kondisi ini menjadi tantangan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu November 2026. Tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi dapat memengaruhi sentimen pemilih.
Sejak serangan militer AS dan Israel ke Iran, harga bensin di AS tercatat naik sekitar US$1,06 per galon atau sekitar 36 persen. Kenaikan ini membebani anggaran rumah tangga dan berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Analisis Ahli: Krisis Lebih Singkat?
Analis Raymond James, Pavel Molchanov, berpendapat bahwa lonjakan harga ini mencerminkan pola yang sama dengan krisis sebelumnya. “Pecahnya perang secara tiba-tiba menyebabkan harga bensin di AS melonjak ke US$4 per galon. Itu menggambarkan konflik Iran saat ini, dan juga invasi Rusia ke Ukraina pada 2022,” ujarnya seperti dilansir Reuters, Senin (30/3).
Namun, Molchanov memperkirakan bahwa krisis kali ini berpotensi lebih singkat. “Kami memperkirakan harga bensin akan mulai mendingin dalam beberapa minggu ke depan,” katanya.
Faktor Penentu Harga Bensin Selanjutnya
Meski demikian, harga bahan bakar masih berpotensi naik jika harga minyak mentah terus meningkat. Kontrak berjangka minyak AS ditutup di level US$102,88 per barel pada Senin, naik US$3,24, dan sempat melonjak lebih tinggi dalam perdagangan Asia setelah laporan serangan terhadap kapal tanker minyak di pelabuhan Dubai.
Pemerintah AS telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam kenaikan harga energi, termasuk melonggarkan aturan pelayaran Jones Act agar kapal berbendera asing dapat mengangkut bahan bakar dan barang lain antar pelabuhan domestik. Namun, pelaku industri menilai dampaknya terhadap harga terbilang terbatas.
Persepsi Konsumen Terhadap Harga Bensin
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar 55 persen responden mengaku keuangan rumah tangga mereka terdampak kenaikan harga bensin, dengan 21 persen di antaranya menyebut dampaknya sangat besar.
Ekonom WisdomTree, Jeremy Siegel, menilai dampak kenaikan harga bensin lebih dari sekadar faktor ekonomi. “Isu utamanya bukan hanya minyak mentah, tetapi bensin, harga yang paling terlihat oleh konsumen. Ketika harga itu naik, dampaknya langsung terasa secara psikologis,” ujarnya.
Kenaikan harga energi ini mempertegas tekanan yang dihadapi ekonomi global di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung. Bagaimana ini akan memengaruhi kebijakan ekonomi AS di sisa tahun 2026? Kita lihat saja nanti.
Kesimpulan
Lonjakan harga bensin di AS menjadi perhatian utama dan memicu berbagai respons dari pemerintah dan pelaku pasar. Kestabilan harga energi sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
