IPIDIKLAT News – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga avtur PT Pertamina tetap kompetitif bagi maskapai penerbangan di Indonesia dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara. Pernyataan ini muncul pada Senin (6/4/2026) di Jakarta menanggapi kekhawatiran global terkait lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.
Kondisi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah memicu tekanan kenaikan harga komoditas energi global, termasuk bahan bakar pesawat terbang. Meski Pertamina melakukan penyesuaian harga, pemerintah memastikan angka tersebut masih berada dalam batas yang wajar jika kita bandingkan dengan standar harga di negara kawasan lain.
Stabilitas Harga Avtur Pertamina di Tengah Dinamika Pasar Global
Bahlil menjelaskan mekanisme harga avtur di Indonesia mengikuti pola pasar global karena PT Pertamina melayani kebutuhan pesawat domestik maupun internasional. Dengan melayani pengisian bagi armada asing, Pertamina menyesuaikan harga berdasarkan pergerakan nilai minyak dunia yang terjadi saat ini.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan data pembanding mengenai posisi harga per 1 April 2026. Pertamina membanderol harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta pada level Rp 23.551 per liter. Jika melirik data negara tetangga, harga di Thailand mencapai Rp 29.518 per liter dan Filipina senilai Rp 25.326 per liter.
| Lokasi | Harga Avtur per 1 April 2026 |
|---|---|
| Indonesia (Soekarno-Hatta) | Rp 23.551 / liter |
| Thailand | Rp 29.518 / liter |
| Filipina | Rp 25.326 / liter |
Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Pasokan Energi Global
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, memperingatkan potensi krisis bahan bakar yang melanda Asia pada April hingga Mei 2026. Gangguan pasokan akibat konflik Iran memaksa banyak negara untuk bersiap menghadapi kelangkaan suplai avtur serta diesel.
Data dari IEA menunjukkan kehilangan volume minyak yang terjadi pada April 2026 mencapai dua kali lipat dibandingkan periode Maret 2026. Hal ini berisiko memicu inflasi tinggi serta menghambat laju pertumbuhan ekonomi, terutama bagi negara berkembang yang memiliki keterbatasan cadangan devisa.
Kekhawatiran Industri Penerbangan Dunia
CEO grup maskapai penerbangan Lufthansa, Carsten Spohr, turut menyoroti ancaman kelangkaan bahan bakar jet bagi industri penerbangan global. Spohr menyatakan kekhawatiran khusus mengenai gangguan pasokan di luar kawasan Eropa yang mungkin menyulitkan operasional maskapai-maskapai internasional saat ini.
Gangguan pasokan ini memicu respons dari berbagai pihak, termasuk asosiasi maskapai penerbangan yang menanggapi kenaikan harga bahan bakar hingga 30 persen. Pemerintah Indonesia bahkan mengeluarkan kebijakan penyesuaian fuel surcharge untuk membantu maskapai mempertahankan keberlangsungan operasional penerbangan di dalam negeri.
Strategi Menghadapi Kenaikan Harga Energi
Pemerintah Indonesia terus memantau pergerakan harga minyak dunia guna meminimalkan efek negatif bagi sektor transportasi. Walaupun tekanan ekonomi terasa cukup kuat, langkah menjaga harga agar tetap kompetitif menjadi prioritas utama agar mobilitas udara nasional tetap terjaga dengan baik.
Situasi ini memang memberikan tantangan besar bagi stabilitas ekonomi secara menyeluruh. Namun, dengan mekanisme pasar yang transparan dan perbandingan harga yang terukur, Indonesia berupaya menjaga agar dampak kenaikan harga avtur tidak membebani sektor penerbangan secara berlebihan dibandingkan negara tetangga.
Pada akhirnya, ketahanan pasokan dan kebijakan harga yang bijak menentukan kemampuan negara dalam melewati gejolak geopolitik global. Pemerintah berharap koordinasi antar lembaga serta pemantauan ketat terhadap tren harga minyak dunia mampu menstabilkan kondisi sektor energi nasional sepanjang tahun 2026.
