IPIDIKLAT News – Alquran sejak lama mengingatkan bahwa hati yang kosong dan gelisah, kondisi yang kerap kita sebut dengan Fear of Missing Out (FOMO), dapat ditenangkan dengan mengingat Allah. Fenomena FOMO, yang membuat seseorang merasa cemas dan takut ketinggalan informasi atau tren terbaru, ternyata bukan hal baru.
Di tengah hiruk pikuk informasi dan gemerlap dunia maya, seringkali hati terasa penuh sesak, namun paradoksnya juga hampa. Keinginan untuk terus menggulir layar, berpindah dari satu kabar ke wajah lainnya, seolah menjadi candu yang melelahkan. Lantas, bagaimana Alquran memberikan solusi untuk kegelisahan ini? Ini dia ulasannya.
Alquran dan Ketenangan Hati
Alquran menyapa kegelisahan itu dengan ayat yang sederhana namun mendalam, seolah berbisik dari lubuk hati:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
allażīna āmanụ wa taṭmainnu qulụbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭmainnul-qulụb
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini tidak berteriak, tidak pula memaksa. Ia hanya mengingatkan bahwa ketenangan sejati bukanlah sesuatu yang dicari di luar diri, melainkan sesuatu yang bisa ditemukan di kedalaman hati. Ketenangan hati, menurut Alquran, terletak pada mengingat Allah (dzikrullah).
Nasihat Imam Al-Ghazali tentang Hati
Imam Abu Hamid al-Ghazali, seorang ulama besar, dalam karya monumentalnya *Ihya Ulumuddin*, pernah menyingkap rahasia hati dengan bahasa yang indah, hampir seperti doa. Beliau menulis:
ٱعْلَمْ أَنَّ ٱلْقَلْبَ هُوَ ٱلْجَوْهَرُ ٱلشَّرِيفُ ٱلَّذِي بِهِ يَعْرِفُ ٱلْإِنْسَانُ رَبَّهُ، وَهُوَ ٱلْمُخَاطَبُ وَٱلْمُطَالَبُ وَٱلْمُعَاتَبُ، وَهُوَ ٱلْمُثَابُ وَٱلْمُعَاقَبُ
I‘lam anna al-qalba huwa al-jawharu asy-syarīfu alladzī bihi ya‘rifu al-insānu rabbah, wa huwa al-mukhāṭabu wal-muṭālabu wal-mu‘ātabu, wa huwa al-mutsābu wal-mu‘āqab.
Artinya: “Ketahuilah, hati adalah permata yang mulia, dengannya manusia mengenal Tuhannya. Ia adalah yang diajak bicara, yang dituntut, yang ditegur, yang diberi pahala, dan yang disiksa.”
Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati bukan sekadar organ biologis yang berdetak. Hati adalah pusat makna, cermin yang memantulkan cahaya Ilahi. Namun, cermin itu bisa berdebu oleh urusan duniawi.
FOMO: Debu Halus di Hati
Di era digital terbaru 2026 ini, debu duniawi datang dengan cara yang sangat halus. Bukan hanya dosa besar yang membuat hati gelisah. Terkadang, keinginan untuk selalu tahu apa yang orang lain punya, rasa cemas tertinggal tren, atau kegelisahan tanpa sebab yang jelas, itulah yang mengotori hati.
Fenomena ini kita kenal dengan istilah FOMO. Alquran jauh sebelum itu sudah menyadari adanya kegelisahan hati yang kehilangan arah. Oleh karena itu, penting untuk mengenali akar masalah FOMO dan mencari solusi yang tepat.
Menemukan Ketenangan di Tengah Keramaian
Lalu, bagaimana cara menemukan ketenangan hati di tengah keramaian informasi dan tuntutan dunia modern? Jawabannya sederhana, tetapi membutuhkan kesungguhan: dengan mengingat Allah.
Mengingat Allah tidak hanya berarti mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah seperti tasbih, tahmid, dan takbir. Lebih dari itu, mengingat Allah berarti menghadirkan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan.
Saat bekerja, mengingat Allah berarti bekerja dengan jujur dan profesional. Saat berinteraksi dengan orang lain, mengingat Allah berarti bersikap ramah dan santun. Bahkan, saat menggunakan media sosial, mengingat Allah berarti memilah dan memilih konten yang bermanfaat, serta menjauhi hal-hal yang sia-sia.
Tips Praktis Mengatasi FOMO Per 2026
Berikut beberapa tips praktis yang bisa Anda coba untuk mengatasi FOMO di tahun 2026 ini:
- Batasi penggunaan media sosial. Tentukan waktu khusus untuk mengakses media sosial dan patuhi batasan tersebut.
- Fokus pada diri sendiri. Jangan terpaku pada kehidupan orang lain. Identifikasi minat dan bakat Anda, lalu kembangkan.
- Bersyukur atas apa yang dimiliki. Fokus pada hal-hal positif dalam hidup Anda dan hindari membandingkan diri dengan orang lain.
- Jalin hubungan yang bermakna. Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman secara langsung. Hindari hanya berinteraksi secara virtual.
- Perbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi lebih tenang dan damai.
Pentingnya Dzikrullah di Era Digital
Dzikrullah menjadi semakin relevan di era digital. Di tengah banjir informasi dan godaan dunia maya, dzikrullah menjadi jangkar yang menstabilkan hati dan pikiran. Dengan dzikrullah, kita mampu memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yangMudharat.
Dzikrullah juga membantu kita untuk tidak mudah terpengaruh oleh tren dan gaya hidup konsumtif yang seringkali dipropagandakan melalui media sosial. Dengan dzikrullah, kita mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Kesimpulan
FOMO adalah fenomena yang nyata dan dapat memengaruhi siapa saja di era terbaru 2026 ini. Namun, Alquran dan ajaran Islam memberikan solusi yang jelas: dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang dan damai. Jadi, mari jadikan dzikrullah sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup kita, agar terhindar dari kegelisahan dan kekosongan hati yang disebabkan oleh FOMO.
