IPIDIKLAT News – Transformasi transportasi menjadi kunci utama mewujudkan kemandirian energi Indonesia per 2026. Djoko Setijowarno, akademisi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), mengungkapkan bahwa sektor transportasi masih mendominasi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional.
Djoko menyoroti ketimpangan dalam pemanfaatan subsidi BBM. Pasalnya, sekitar 93% subsidi BBM justru dinikmati oleh kendaraan pribadi, sementara transportasi umum hanya kebagian sekitar 3%. Kondisi ini, menurutnya, mengancam ketahanan fiskal negara serta kelestarian lingkungan.
Konsumsi BBM Didominasi Kendaraan Pribadi
Djoko Setijowarno menjelaskan bahwa sektor transportasi menyerap sekitar 91,2% konsumsi BBM nasional per 2026. Hal ini menunjukkan disparitas yang signifikan dalam alokasi energi, di mana subsidi lebih banyak menguntungkan kendaraan pribadi dibandingkan transportasi publik yang melayani kepentingan banyak orang.
Tidak hanya itu, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam Handbook Statistik Energi dan Ekonomi Indonesia 2024 memperlihatkan tren peningkatan konsumsi BBM dalam satu dekade terakhir. Sempat mengalami penurunan saat pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi 65.290 ribu kiloliter, konsumsi kembali melonjak menjadi 82.319 ribu kiloliter pada 2024. Data ini menjadi gambaran betapa sektor transportasi masih sangat bergantung pada BBM.
Peningkatan Konsumsi BBM di Sektor Transportasi
Porsi sektor transportasi terhadap konsumsi BBM secara nasional juga mengalami peningkatan signifikan. Pada 2014, sektor ini menyumbang 79,5% dari total konsumsi BBM. Namun, pada 2024, angka ini melesat menjadi 91,2%. Transportasi darat menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 90%, disusul transportasi perairan 6% dan udara 4%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada BBM di sektor transportasi semakin mengkhawatirkan.
Selain itu, ketimpangan ini juga memicu masalah lingkungan yang semakin serius. Emisi gas buang dari kendaraan bermotor menjadi salah satu penyebab utama polusi udara di kota-kota besar. Oleh karena itu, transformasi transportasi menjadi agenda mendesak untuk mencapai kemandirian energi dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Dampak Konsumsi BBM terhadap Ketahanan Fiskal
Ketergantungan yang tinggi pada BBM tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi ketahanan fiskal negara. Subsidi BBM yang besar membebani anggaran negara dan mengurangi alokasi untuk sektor-sektor penting lainnya seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
Jika kondisi ini terus berlanjut, defisit anggaran akan semakin membengkak dan mengganggu stabilitas ekonomi makro. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengurangi subsidi BBM secara bertahap dan mengalihkan dana tersebut untuk pengembangan energi terbarukan dan transportasi berkelanjutan.
Strategi Mengurangi Ketergantungan BBM
Untuk mengurangi ketergantungan pada BBM, pemerintah perlu mendorong penggunaan transportasi umum yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Investasi dalam pengembangan jaringan transportasi massal seperti kereta api, bus rapid transit (BRT), dan angkutan kota berbasis listrik perlu ditingkatkan secara signifikan. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan insentif kepada masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik atau kendaraan berbahan bakar alternatif.
Selain itu, perlu adanya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penggunaan transportasi umum dan kendaraan ramah lingkungan. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, diharapkan akan terjadi perubahan perilaku yang signifikan dalam memilih moda transportasi.
Pengembangan Energi Terbarukan untuk Transportasi
Salah satu solusi jangka panjang untuk mencapai kemandirian energi di sektor transportasi adalah dengan mengembangkan energi terbarukan. Pemanfaatan energi surya, angin, dan air untuk menghasilkan listrik dapat mengurangi ketergantungan pada BBM secara signifikan. Pemerintah perlu memberikan dukungan dan insentif kepada perusahaan-perusahaan yang berinvestasi dalam pengembangan energi terbarukan.
Pengembangan biofuel juga menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan. Biofuel dapat diproduksi dari tanaman seperti kelapa sawit, jagung, dan singkong. Namun, perlu diingat bahwa pengembangan biofuel juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan dan sosial.
Kesimpulan
Transformasi transportasi menjadi kunci utama mewujudkan kemandirian energi Indonesia 2026. Dengan mengurangi ketergantungan pada BBM dan mengembangkan energi terbarukan, Indonesia dapat mencapai ketahanan energi yang berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Langkah ini membutuhkan komitmen dan kerja sama dari semua pihak, termasuk pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat.
