Beranda » Berita » Eco-Enzyme: Komunitas Angen Ubah Sampah Jadi Berkah

Eco-Enzyme: Komunitas Angen Ubah Sampah Jadi Berkah

IPIDIKLAT NewsKomunitas Angen di Desa Serangan, Denpasar Selatan, mengubah sampah organik menjadi eco-enzyme, cairan multifungsi yang bermanfaat. Inisiatif ini, yang mendapat dukungan dari PT Bali Turtle Island Development (BTID), menjadi solusi menjaga pesisir dan mendukung program pengelolaan sampah organik Pemerintah Kota Denpasar.

Sejak akhir Desember 2026, Komunitas Angen memanfaatkan limbah buah dari warung kuliner dan sarana upakara untuk menghasilkan eco-enzyme melalui fermentasi. Cairan ini kemudian bisa dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pupuk organik, hingga penjernih air. Apakah ini bisa menjadi solusi masalah sampah di kota-kota besar?

Manfaat Ganda Olah Sampah Organik Jadi Eco-Enzyme

I Wayan Patut, Pembina Komunitas Angen, menjelaskan bahwa proses pembuatan eco-enzyme memakan waktu sekitar tiga bulan. Tahapannya meliputi pengumpulan limbah buah, pencacahan, hingga fermentasi dalam wadah galon bekas. Komunitas ini melakukan organik secara mandiri.

“Kami mencampurkan bunga kenanga dan bunga kantil agar aromanya harum dan segar selama fermentasi, sehingga tidak meninggalkan kesan bau sampah. Semuanya murni menggunakan bahan organik tanpa tambahan zat kimia,” ujar Wayan Patut pada Selasa (31/3).

Tidak hanya mengurangi volume , Wayan Patut menambahkan, ini juga menerapkan konsep ekonomi sirkular. Ampas dari produksi eco-enzyme dimanfaatkan kembali sebagai bahan kompos dan pupuk alami. Artinya, tidak ada yang terbuang dalam proses ini.

“Ampas sisa produksinya mampu mempercepat proses pembuatan kompos dan mencegah lalat. Ampas ini juga bisa langsung ditaburkan ke tanaman sebagai pupuk padat alami,” jelasnya. Hal ini membuktikan bahwa sampah bisa memiliki ekonomi jika diolah dengan tepat.

Baca Juga :  Solusi PBI JK Mati: Penyebab dan Cara Mengaktifkannya Kembali

Mendorong Kesadaran Masyarakat dalam Pengolahan Sampah

Wayan Patut berharap inisiatif ini dapat mendorong kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari tangga. Dengan memilah sampah, masyarakat dapat berkontribusi pada pengurangan volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Dengan inovasi ini, kami berharap tumbuhnya kesadaran dimulai dari setiap rumah tangga yang pelan-pelan terbiasa memilah dan memilih sampah mereka sendiri, karena tidak semua sampah adalah limbah, sebagian bisa menjadi sumber daya,” tuturnya. Inisiatif kecil dari rumah tangga bisa berdampak besar bagi .

Wayan Patut juga menuturkan bahwa kegiatan ini terlaksana berkat kolaborasi dengan Kura-Kura Bali yang selama ini memberikan ruang dan dukungan, termasuk dalam berbagai kegiatan. Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Kami sudah banyak kolaborasi, bahkan market utama kami ada di Kura-Kura Bali. Dari inisiatif itu kami diberi ruang dan tempat saat ada event tertentu, termasuk juga dengan pemerintah,” tambahnya. Sinergi antara komunitas, swasta, dan pemerintah sangat penting untuk keberlanjutan program.

Dukungan Penuh dari Berbagai Pihak

Kepala Departemen BTID, Zefri Alfaruqy, mengapresiasi inisiatif Komunitas Angen dan menyatakan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, dukungan terhadap komunitas lokal yang berupaya menjaga kebersihan lingkungan sangat penting.

“Kami senang bisa menyediakan ruang dan fasilitas bagi Komunitas Angen untuk terus berinovasi. kami adalah memastikan komunitas lokal memiliki tempat untuk berkembang, apalagi melalui kegiatan yang membantu menjaga kebersihan lingkungan di Serangan seperti ini,” ujar Zefri. Dukungan ini menjadi motivasi bagi komunitas untuk terus berkarya.

Saat ini, fasilitas workshop Komunitas Angen di kawasan Kura-Kura Bali telah memproses sekitar 150 galon berkapasitas 15 liter dan satu drum berkapasitas 100 liter. Ke depan, produksi eco-enzyme ditargetkan mencapai 2 hingga 5 ton per 2026. Angka ini menunjukkan potensi besar dari pengolahan sampah organik.

Baca Juga :  Rawan Bencana Probolinggo: Wilayah Pantauan Intensif BPBD Terbaru 2026

Eco-Enzyme: Solusi Sampah Masa Depan?

Melalui inisiatif ini, Komunitas Angen berharap pengolahan sampah organik dapat memberikan kontribusi nyata bagi kebersihan lingkungan serta mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara lebih produktif. Lantas, bagaimana cara agar program ini bisa direplikasi di daerah lain?

Inovasi Komunitas Angen ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Data terbaru 2026 menunjukkan bahwa volume sampah terus meningkat setiap tahunnya. Jika tidak ada solusi yang efektif, masalah sampah akan semakin memburuk.

Pemerintah terus menggalakkan program dari sumbernya, termasuk melalui pembentukan sampah dan kegiatan daur ulang. Eco-enzyme menjadi salah satu solusi alternatif yang patut dicoba, terutama di daerah yang memiliki banyak limbah organik.

Kesimpulan

Inisiatif Komunitas Angen dalam mengolah sampah organik menjadi eco-enzyme patut diapresiasi dan dijadikan contoh. Dengan dukungan dari berbagai pihak, program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Semoga semakin banyak komunitas yang terinspirasi untuk melakukan hal serupa di daerah masing-masing, sehingga Indonesia bisa bebas dari masalah sampah.