IPIDIKLAT News – Paus Leo, pemimpin tertinggi Gereja Katolik, menyampaikan kritik pedas terhadap para pemimpin dunia yang terlibat dalam peperangan. Menurut Paus Leo, Tuhan menolak doa-doa dari para pemimpin yang “tangannya penuh darah”. Pernyataan keras ini disampaikan saat memimpin perayaan Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, pada Minggu, 29 Maret 2026.
Perayaan Minggu Palma ini menjadi pembuka Pekan Suci menjelang Paskah, yang dirayakan oleh sekitar 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia. Paus Leo menyoroti konflik yang sedang berlangsung, termasuk perang yang melibatkan Iran, sebagai sesuatu yang mengerikan dan tidak dapat dibenarkan atas nama agama. Lebih lanjut, Paus menegaskan bahwa Yesus, Raja Damai, menolak perang dan tidak dapat digunakan sebagai pembenaran untuk konflik.
Paus Leo Kecam Pembenaran Perang Atas Nama Agama
Dalam khotbahnya, yang dilansir oleh Reuters pada Selasa, 31 Maret 2026, Paus Leo menegaskan bahwa Tuhan tidak akan mendengarkan doa dari mereka yang terlibat dalam kekerasan. Ia mengutip ayat Alkitab yang berbunyi, “Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh dengan darah.” Paus Leo memang tidak secara eksplisit menyebut nama pemimpin tertentu. Akan tetapi, dalam beberapa pekan terakhir, ia semakin vokal mengkritik eskalasi konflik, terutama yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam serangan ke Iran sejak 28 Februari 2026.
Tidak hanya itu, Paus Leo juga menyoroti penderitaan umat Kristen di Timur Tengah akibat konflik berkepanjangan. Ia menyampaikan kekhawatiran bahwa banyak dari mereka tidak dapat merayakan Paskah dengan layak. Oleh karena itu, Paus kembali menyerukan pentingnya gencatan senjata segera serta mengecam serangan militer yang dilakukan tanpa pandang bulu. Tindakan semacam itu harus dihentikan karena hanya memperparah penderitaan warga sipil.
Kritik Paus Terhadap Narasi Keagamaan dalam Konflik
Pernyataan Paus Leo ini muncul di tengah maraknya penggunaan narasi keagamaan oleh sejumlah pihak untuk membenarkan aksi militer. Paus mengingatkan bahwa ajaran Yesus justru menolak kekerasan dalam bentuk apa pun. Dalam khotbahnya, Paus merujuk pada kisah dalam Injil ketika Yesus menegur pengikutnya yang menggunakan pedang saat penangkapan dirinya. Nah, kisah ini memiliki makna mendalam tentang penolakan terhadap kekerasan.
“(Yesus) tidak mempersenjatai diri, atau membela diri, atau berperang,” kata Paus Leo. Ia mengungkapkan wajah Allah yang lembut, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri-Nya sendiri, Ia membiarkan diri-Nya dipaku di kayu salib,” jelasnya. Jadi, pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya perdamaian dan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan.
Seruan Gencatan Senjata dan Perlindungan Umat Kristen Timur Tengah
Dalam seruan penutup perayaan Minggu Palma, Paus Leo secara khusus menyoroti penderitaan umat Kristen di Timur Tengah. Dikarenakan konflik yang terus berlanjut, banyak dari mereka hidup dalam ketakutan dan kesulitan. Oleh karena itu, Paus Leo kembali menyerukan gencatan senjata segera. Ia mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk menghentikan kekerasan dan mencari solusi damai.
Selain itu, Paus Leo mengecam serangan militer yang dilakukan tanpa pandang bulu. Ia menilai tindakan semacam itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter dan kemanusiaan. Akibatnya, Paus mendesak agar tindakan semacam itu dihentikan karena hanya memperparah penderitaan sipil yang tidak bersalah.
Pesan Damai Paus Leo di Tengah Eskalasi Konflik Global
Pernyataan Paus Leo ini hadir di tengah meningkatnya ketegangan dan eskalasi konflik di berbagai belahan dunia. Bahkan, tidak sedikit pihak yang menggunakan narasi keagamaan untuk membenarkan aksi militer. Namun, Paus Leo dengan tegas mengingatkan bahwa ajaran Yesus justru menolak kekerasan dalam bentuk apa pun. Mengingat pentingnya pesan ini, Paus Leo menyerukan kepada semua orang untuk mengedepankan dialog dan perdamaian.
Oleh karena itu, di tengah dunia yang dilanda konflik, pesan Paus Leo tentang perdamaian dan penolakan kekerasan menjadi semakin relevan. Paus mengajak semua orang untuk merenungkan makna sejati dari iman dan bekerja sama untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan damai. Singkatnya, mari kita ikuti ajaran Yesus untuk mengasihi sesama dan menjauhi segala bentuk kekerasan.
Kesimpulan
Paus Leo mengecam pemimpin dunia yang memicu perang dan menegaskan bahwa Tuhan tidak akan mendengarkan doa mereka. Imbauan ini muncul di tengah konflik global yang meningkat dan penggunaan narasi agama untuk membenarkan kekerasan. Paus menekankan pentingnya perdamaian, menyerukan gencatan senjata segera, dan menyoroti penderitaan umat Kristen di Timur Tengah.
