Beranda » Berita » Budaya Menyontek: Akar Masalah & Solusi dalam Psikologi Islam

Budaya Menyontek: Akar Masalah & Solusi dalam Psikologi Islam

IPIDIKLAT News – Fenomena budaya menyontek masih marak terjadi di Indonesia, dengan tingkat kejadian mencapai 78% di sekolah dan 98% di kampus per update 2026. Survei KPK terbaru 2026 ini mengungkap bahwa menyontek bukan lagi sekadar , tetapi dianggap sebagai strategi bertahan hidup di pendidikan.

Padahal, prestasi seharusnya diraih melalui belajar yang disiplin dan manajemen waktu yang baik. Namun, tekanan akademik, kurangnya pemahaman materi, hingga rasa tidak percaya diri memicu dan mahasiswa mencari jalan pintas dengan menyontek. Lantas, bagaimana pandangan psikologi Islam terhadap permasalahan ini?

Akar Masalah Budaya Menyontek di Indonesia

Perilaku menyontek, menurut Kadek dkk. (2024, *updated 2026*), adalah bentuk kecurangan akademis untuk meraih keuntungan. Faktor-faktor pendorongnya beragam, mulai dari kurangnya rasa dalam mengerjakan tugas dan ujian, hingga tekanan akademik dari sekolah maupun keluarga. Selain itu, ketidakpahaman terhadap materi pelajaran dan rasa malas juga turut berperan (Niwu dkk.,, 2026).

Bentuk-bentuk menyontek pun bervariasi, mulai dari menyalin tugas teman, mencari jawaban di internet saat ujian, hingga berdiskusi jawaban secara ilegal. Ironisnya, kecurangan ini seringkali dianggap lumrah dan bahkan menjadi budaya di dunia .

Survei KPK 2024 (Published 2026): Fakta yang Mencengangkan

Wawan Wardiana, Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, mengungkapkan hasil survei KPK terbaru 2026 yang menunjukkan bahwa 78% sekolah dan 98% kampus masih menemukan kasus menyontek. “Dengan kata lain menyontek masih terjadi pada mayoritas sekolah dan kampus,” ungkap Wawan. Angka ini, dibanding data -tahun sebelumnya, menegaskan bahwa perilaku menyontek sudah mengakar kuat di dunia pendidikan.

Baca Juga :  BRI Raih Sertifikasi ISO/IEC 25000 Pertama di Indonesia – Update 2026

Bahkan, seringkali siswa atau mahasiswa merasa rugi jika jujur sendirian di lingkungan yang penuh kecurangan. Di sisi lain, kemudahan akses informasi melalui internet dan teknologi lainnya membuka celah untuk menyontek dengan lebih mudah tanpa diimbangi etika dan aturan yang ketat (Gazadinda dkk., 2026).

Dampak Negatif Menyontek terhadap Integritas

Menyontek, menurut Sulistiyawati dkk. (2025, *updated 2026*), mengurangi nilai-nilai kejujuran dalam diri siswa atau mahasiswa. Padahal, adalah fondasi penting yang harus dimiliki setiap individu. Akibatnya, integritas dalam dunia akademik pun ikut terkikis.

Dalam kacamata Islam, menyontek adalah bentuk hilangnya sifat Shiddiq (jujur) yang seharusnya menjadi karakter seorang muslim. Jika ditinjau dari aspek Islam, fenomena ini menunjukkan adanya disfungsi pada elemen-elemen kejiwaan manusia, yaitu al-fitrah, al-qalb, al-nafs, al-aql dan al-ruh.

Psikologi Islam Menyoroti Disfungsi Jiwa

Nur Annisa (2026) menjelaskan bahwa akal seharusnya menjadi instrumen jiwa yang mengarahkan manusia pada kesadaran moral dan spiritual. Qalb berperan sebagai pusat moralitas dan penentu arah spiritual, sementara nafs adalah bagian diri manusia yang mengandung hasrat, dorongan, dan kecenderungan emosional, baik negatif (nafs ammarah) maupun positif (nafs muthmainnah).

Dalam kasus menyontek, akal tidak lagi berfungsi untuk memahami kebenaran, melainkan hanya untuk mencari cara mendapatkan keuntungan duniawi. Qalb yang seharusnya menjadi pusat nilai moral, terpengaruh oleh lingkungan yang tidak jujur. Ketika qalb tidak berfungsi, keputusan yang dibuat akan mengabaikan nilai kejujuran demi memenuhi tuntutan nafs ammarah.

Proses menyontek terjadi ketika nafs menginginkan nilai tinggi, qalb gagal memberikan orientasi moral yang kuat, dan akal mengeksekusinya dengan cara-cara curang.

Solusi: Optimalisasi Fungsi Jiwa dan Integritas

Lantas, bagaimana cara agar terhindar dari perilaku menyontek? Individu perlu mengoptimalkan fungsi-fungsi kejiwaan dalam diri dan membangun integritas yang kuat. Pertama, aktifkan fungsi akal sebagai pemandu moral. Akal harus digunakan untuk memahami bahwa kejujuran adalah nilai yang sangat penting. Akal yang sehat akan mengarahkan jiwa untuk memilih kebenaran, bukan cara instan.

Baca Juga :  Turunkan Tekanan Darah Melalui Pola Makan Sehat

Selanjutnya, karena menyontek juga didorong oleh nafs ammarah, disiplin spiritual menjadi kunci. Dengan disiplin spiritual, seseorang dapat melatih jiwanya menuju perilaku yang lebih baik dan tidak mudah tergiur oleh tekanan lingkungan. Jaga kejernihan qalb dengan menjauhi sifat duniawi berlebihan. Individu akan merasa gelisah ketika melakukan kecurangan, sehingga qalb berfungsi sebagai penyaring etika.

Terakhir, selalu ingat bahwa setiap tindakan adalah bentuk tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Kesimpulan

Indonesia menghadapi krisis integritas akademik, dengan budaya menyontek yang telah menjadi hal lazim di sekolah dan kampus. Fenomena ini menunjukkan adanya disfungsi elemen kejiwaan manusia, yaitu akal, qalb, dan nafs. Oleh karena itu, penting untuk mengaktifkan kembali akal, melatih nafs dengan disiplin spiritual, menjaga qalb, dan menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak di hadapan Allah SWT.