IPIDIKLAT News – Ternate, Maluku Utara – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menegaskan komitmen provinsi untuk fokus pada hilirisasi perikanan mulai 2026. Langkah ini bertujuan mendongkrak ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Gubernur Sherly menyampaikan hal tersebut dalam Forum Diskusi Terpumpun di Ternate, Minggu lalu. Ia menekankan bahwa potensi laut Maluku Utara, yang 70 persen wilayahnya terdiri dari lautan, hanya akan menjadi sumber daya yang belum termanfaatkan tanpa hilirisasi dan partisipasi sektor swasta.
Maluku Utara Genjot Hilirisasi Perikanan
Sherly berkomitmen mengatasi paradoks kemiskinan di wilayah pesisir. Menurutnya, nelayan masih hidup di bawah garis kemiskinan meskipun daerah kaya akan potensi laut. Strategi hilirisasi perikanan menjadi kunci utama untuk meningkatkan taraf hidup mereka per 2026.
Selain itu, gubernur Sherly menyoroti pentingnya investasi yang sehat melalui skema bagi hasil yang adil. Hal ini bertujuan menarik minat investor sekaligus memastikan keuntungan yang seimbang bagi masyarakat lokal.
Empat Pilar Transformasi Perikanan Maluku Utara
Gubernur Sherly memaparkan empat pilar utama dalam transformasi perikanan di Maluku Utara:
- Modernisasi Armada: Fokus pada pengembangan kapal berukuran 5-20 GT.
- Revitalisasi Rantai Dingin: Memperkuat infrastruktur cold storage dan pabrik es.
- Hilirisasi dan Offtaker: Menjamin stabilitas harga ikan di pasaran.
- Skema Bagi Hasil Adil: Menciptakan iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan.
Potensi Laut Maluku Utara: Peluang Rp45 Triliun
Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, turut hadir dalam forum tersebut. Ia menyatakan bahwa potensi laut Maluku Utara, jika dikelola secara tepat, dapat menghasilkan pendapatan yang signifikan.
Sebagai contoh, proyek tambak udang vaname seluas 10.000 hektar diproyeksikan mampu menghasilkan pendapatan bersih hingga Rp45 triliun. Angka fantastis ini menunjukkan betapa besar peluang yang dapat Maluku Utara manfaatkan melalui pengelolaan sumber daya laut yang optimal di tahun 2026.
Masukan dari Para Akademisi
Forum diskusi juga melibatkan akademisi yang memberikan berbagai masukan konstruktif bagi pemerintah daerah.
Prof. Dr. M. Irfan Koda mendorong pengembangan budidaya rumput laut dan ikan nila sebagai alternatif sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir. Sementara itu, Prof. Dr. Djanib Ahmad menyoroti pentingnya memperhatikan aspek sosiologis dalam setiap program pemerintah agar tepat sasaran dan berkelanjutan. Isu stunting di desa-desa pesisir juga menjadi perhatian utama, mengingat pentingnya asupan protein dari hasil laut untuk tumbuh kembang anak-anak.
Dukungan Penuh untuk Ekonomi Biru Berkelanjutan
Dr. Thamrin A. Ibrahim, selaku moderator diskusi, menutup acara dengan pernyataan dari Sekretaris Daerah Samsuddin A. Kadir. Samsuddin menyatakan bahwa seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) siap mendukung transisi menuju ekonomi biru yang berkelanjutan di Maluku Utara di 2026 dan tahun-tahun mendatang.
Keberhasilan kebijakan ini tidak hanya diukur dari angka-angka ekonomi, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan anak-anak nelayan. Pemerintah berharap anak-anak nelayan dapat bersekolah lebih tinggi dan meraih masa depan yang lebih baik berkat pemanfaatan potensi laut yang berkelanjutan.
Kesimpulan
Fokus pada hilirisasi perikanan menjadi strategi utama Maluku Utara untuk mendongkrak ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, akademisi, dan sektor swasta, potensi laut Maluku Utara diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan provinsi di tahun 2026 dan seterusnya.
