IPIDIKLAT News – Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) memberikan perkembangan terbaru kondisi Andrie Yunus, korban penyiraman air keras oleh oknum anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, setelah menjalani perawatan intensif selama 30 hari di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Fatia Maulidiyanti, anggota TAUD, menjelaskan bahwa Andrie Yunus masih membutuhkan perawatan berkelanjutan dan telah menjalani lima kali operasi kulit serta mata. Perawatan intensif ini direncanakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, dengan operasi mata lanjutan yang dijadwalkan sekitar empat bulan lagi pada 2026. Kondisi terkini Andrie Yunus menjadi perhatian banyak pihak yang menuntut keadilan.
Perkembangan Operasi dan Kondisi Andrie Yunus
Fatia menjelaskan Andrie telah menjalani operasi skin graft pada beberapa bagian tubuh yang terdampak siraman air keras, meliputi paha, dada, leher, dan lengan. Luka bakar akibat cairan korosif tersebut juga mengenai bagian tubuh lain, termasuk wajah.
Pihak RSCM menyampaikan bahwa cairan kimia yang digunakan dalam serangan tersebut memiliki tingkat kepekatan tinggi saat bersentuhan dengan kulit. Akibatnya, cairan yang diduga kuat merupakan asam sulfat itu berpotensi menyebabkan kerusakan parah pada penglihatan Andrie. “Kami mengajak semua pihak untuk mendoakan kelancaran operasi cangkok mata bagi Andrie, agar ia bisa segera pulih,” imbuh Fatia.
Kronologi Penyerangan dan Proses Hukum Berjalan
Andrie Yunus menjadi korban penyiraman cairan kimia korosif pada 12 Maret 2026, saat melintas di Jalan Salemba I-Talang, Jakarta Pusat. Catatan medis menunjukkan, Andrie mengalami luka bakar lebih dari 20 persen akibat serangan yang dilakukan oleh oknum prajurit BAIS TNI tersebut.
Pekan lalu, Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI melimpahkan berkas perkara beserta bukti kepada Oditur Militer 07-II Jakarta. Apabila berkas dinyatakan lengkap, kasus ini akan segera memasuki tahap persidangan di Pengadilan Militer 08-II Jakarta. Terkait proses hukum yang berjalan, Koalisi Masyarakat Sipil terus mengawal kasus ini.
Identitas Pelaku dan Penolakan Peradilan Militer
Puspom TNI telah mengidentifikasi empat orang pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Keempat pelaku tersebut adalah NDP, SL, BHW, dan ES, yang berasal dari matra udara dan laut. NDP memiliki pangkat kapten, SL dan BHW berpangkat letnan satu, sedangkan ES berpangkat sersan dua.
Koalisi Masyarakat Sipil, termasuk Andrie Yunus, menolak proses hukum diselesaikan melalui mekanisme peradilan militer. Mereka mendesak agar kasus percobaan pembunuhan berencana ini diadili di peradilan umum, serta mendesak pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen. Menurut mereka, peradilan umum akan memberikan transparansi dan keadilan yang lebih baik bagi korban.
Dukungan dan Harapan untuk Kesembuhan Andrie Yunus
Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus menuai kecaman dari berbagai pihak. Banyak organisasi masyarakat sipil dan individu yang menyatakan dukungan moral dan materiil untuk Andrie dan keluarganya. Dukungan ini diharapkan dapat meringankan beban yang dialami Andrie selama masa perawatan.
Selain itu, dukungan publik juga diharapkan dapat mendorong proses hukum yang transparan dan adil bagi semua pihak yang terlibat. Masyarakat berharap agar kasus ini dapat diselesaikan secepatnya dan para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Perkembangan kondisi Andrie Yunus akan terus dipantau oleh berbagai pihak.
Masyarakat Sipil Mendorong Transparansi Kasus
Koalisi Masyarakat Sipil terus menyuarakan pentingnya transparansi dalam penanganan kasus ini. Mereka berpendapat bahwa peradilan umum akan lebih menjamin hak-hak korban dan memberikan kesempatan bagi publik untuk mengawasi jalannya persidangan.
Selain itu, pembentukan TGPF independen diyakini dapat mengungkap fakta-fakta yang mungkin belum terungkap dan memastikan bahwa tidak ada pihak yang dilindungi. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip negara hukum yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan di depan hukum.
Kesimpulan
Kondisi Andrie Yunus pasca-penyerangan air keras masih membutuhkan perhatian dan dukungan berkelanjutan. Proses hukum kasus ini terus berjalan, dengan harapan dapat memberikan keadilan bagi korban dan mencegah kejadian serupa di masa depan. Dukungan dari berbagai pihak sangat berarti bagi pemulihan Andrie dan keluarganya.
