Beranda » Berita » Kenapa Hujan di Musim Kemarau? Ini Daftar Wilayah & Penyebabnya

Kenapa Hujan di Musim Kemarau? Ini Daftar Wilayah & Penyebabnya

IPIDIKLAT News – Sejumlah wilayah di Indonesia mengalami hujan dengan intensitas tinggi, bahkan sangat lebat, meskipun saat ini kalender klimatologis menunjukkan awal musim kemarau April 2026. Fenomena ini menjadi perhatian karena kontras dengan kondisi normal yang kering.

Wilayah yang Masih Diguyur Hujan di Awal Musim Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan tinggi di beberapa wilayah pada periode 30 Maret hingga 1 April . Berikut rinciannya:

  • Maluku: 134,3 mm/hari (sangat lebat)
  • Sumatra Barat: 86,6 mm/hari
  • Sumatra Utara: 77,6 mm/hari
  • : 76,0 mm/hari
  • : 75,6 mm/hari
  • Gorontalo: 60,5 mm/hari
  • Kalimantan Barat: 58,3 mm/hari
  • Nusa Tenggara Barat: 57,5 mm/hari

Tidak hanya wilayah-wilayah tersebut, dan sekitarnya juga masih sering diguyur hujan. Bahkan, memprediksi musim kemarau di Jakarta baru akan dimulai pada Mei dasarian pertama 2026.

Penyebab Hujan di Awal Musim Kemarau 2026

BMKG menjelaskan beberapa faktor dinamika atmosfer yang memicu hujan di awal musim kemarau 2026. Pertama, aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG). Kedua, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) juga berperan signifikan.

Selain itu, peralihan Monsun Asia ke Monsun membentuk pola angin dan konvergensi. Pola ini mendukung pertumbuhan awan hujan. “Sehingga meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan baik di sekitar pusat sirkulasi maupun di wilayah yang dipengaruhi pola angin tersebut,” jelas BMKG dalam keterangan resminya.

Peran Monsun dalam Pembentukan Awan Hujan

Monsun, atau angin muson, memainkan peran krusial dalam dinamika cuaca di Indonesia. Peralihan dari Monsun Asia yang membawa udara kering ke Monsun Australia yang membawa uap air memicu perubahan signifikan.

Baca Juga :  Syarat Pengangkatan PPPK 2026: Tanpa Tes atau Sekadar Formalitas?

Pola angin yang terbentuk akibat peralihan ini menciptakan area konvergensi, di mana massa udara bertemu dan naik. Udara yang naik ini kemudian mendingin dan membentuk awan hujan, yang menjelaskan mengapa beberapa wilayah masih mengalami hujan lebat meski sudah memasuki musim kemarau.

Kapan Musim Kemarau 2026 Dimulai?

Meskipun beberapa daerah masih basah, BMKG mencatat bahwa sekitar 7 persen zona musim di Indonesia sudah memasuki musim kemarau per April 2026. Sebagian besar wilayah lainnya akan menyusul secara bertahap pada April hingga Juni 2026.

Wilayah yang diperkirakan lebih dulu memasuki kemarau antara lain sebagian Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Barat. Masyarakat di wilayah ini diharapkan bersiap menghadapi kondisi cuaca yang lebih kering.

Puncak Musim Kemarau 2026

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Lebih dari 60 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami kondisi kering pada periode ini.

Dengan demikian, masyarakat perlu mengantisipasi dampak yang mungkin timbul akibat musim kemarau. Beberapa tindakan preventif seperti menjaga ketersediaan air bersih, mewaspadai potensi hutan dan lahan, serta menjaga kesehatan sangat diperlukan.

Kesimpulan

Meskipun kalender menunjukkan awal musim kemarau, beberapa wilayah di Indonesia masih diguyur hujan akibat dinamika atmosfer dan peralihan angin muson. Kondisi ini diperkirakan akan berangsur normal, dengan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah antisipasi yang diperlukan.