Beranda » Berita » Kelangkaan Plastik Kemasan Jadi Tantangan Baru Sektor Pangan

Kelangkaan Plastik Kemasan Jadi Tantangan Baru Sektor Pangan

IPIDIKLAT News – Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia atau ID Food, Ghimoyo, mengeluhkan sulitnya perusahaan mendapatkan pasokan plastik untuk kebutuhan kemasan pangan dalam rapat bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (7/4/2026). Kelangkaan plastik kemasan ini menghambat operasional ID Food selaku salah satu pemain utama di sektor pangan nasional.

Ghimoyo menegaskan bahwa kondisi ini bukan lagi sekadar isu viral semata, melainkan realita ekonomi yang menghantam pelaku industri pangan secara langsung. Seluruh lini distribusi pangan saat ini mengalami kendala serius karena keterbatasan kemasan yang menjadi komponen vital dalam operasional perusahaan setiap harinya.

Faktanya, industri di tanah air mulai merasakan dampak nyata dari surutnya pasokan biji plastik. Berbagai pabrik di Indonesia kini kesulitan memenuhi permintaan pasar karena minimnya material dasar tersebut. Kondisi ini membawa risiko krusial bagi , mengingat hampir seluruh produk yang masyarakat butuhkan bergantung sepenuhnya pada material plastik.

Dampak Kelangkaan Plastik Bagi Industri Pangan

Ketergantungan industri terhadap kemasan plastik mencakup spektrum yang sangat luas. ID Food sendiri menggunakan material ini untuk berbagai kebutuhan harian, mulai dari distribusi beras hingga kemasan minyak goreng. Selain itu, sektor pendukung seperti industri pupuk pun membutuhkan karung berbahan plastik untuk menjaga kualitas produk sebelum sampai ke tangan petani.

Ghimoyo menilai situasi ini sangat mengkhawatirkan karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Seluruh mata pupuk, beras, hingga berbagai produk kemasan kiloan menggantungkan nasib mereka pada ketersediaan plastik. Dengan demikian, gangguan pasokan ini berpotensi memicu ketidakstabilan harga komoditas pangan pokok di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun .

Baca Juga :  Evakuasi KA Bangunkarta Rampung demi Akses Lintas Bumiayu Normal

Selain masalah distribusi, ikut menjadi beban tambahan bagi perusahaan. Biaya dan energi mengalami peningkatan drastis akibat penutupan yang selama ini menjadi jalur utama pasokan bahan baku plastik dari Timur Tengah. Akibatnya, pelaku industri harus memutar untuk menjaga stabilitas operasional di tengah mahalnya ongkos pengadaan material.

Penurunan Produksi dan Lonjakan Harga

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia, Adhi S Lukman, memberikan gambaran lebih spesifik mengenai krisis ini. Industri hulu plastik di dalam negeri kini mengalami penurunan produksi hingga mencapai sepertiga dari total kapasitas normal. Bahkan, ia mencatat beberapa pemasok terpaksa menghentikan operasional karena bahan baku sudah habis.

Kondisi ini memicu lonjakan harga yang sangat ekstrem di berbagai tingkatan distribusi. Tabel di bawah ini merangkum estimasi kenaikan harga bahan plastik di pasar per :

Kategori BahanTingkat Lonjakan
Harga Produsen30% hingga 60%
Tingkat PedagangHingga 100% (Dua Kali Lipat)
Harga Pasar (Wilayah)Hingga 300% (Tiga Kali Lipat)

Lonjakan harga ini tidak hanya berdampak pada industri skala besar, tetapi juga memukul pedagang kecil. Mustaroh, seorang penjual es kelapa, mengaku kewalahan karena hampir seluruh jenis plastik yang ia butuhkan mengalami kenaikan harga yang tidak masuk akal. Semua merek plastik kini mengalami kenaikan harga yang seragam di pasaran.

Dampak Nyata di Sektor Usaha Kecil

Mustaroh merinci kenaikan harga yang ia alami saat membeli kebutuhan di toko penyedia plastik. Berikut rincian perubahan harga berdasarkan penuturannya:

  • Plastik kantong: Naik dari Rp15.000 menjadi Rp23.000.
  • Sedotan: Naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000.
  • Plastik kemasan merek tomat: Naik dari Rp36.000 menjadi Rp60.000 per pak.
Baca Juga :  Cara membatalkan SPinjam Shopee Dengan Aman di 2026

Tentu saja, angka-angka tersebut merupakan harga pembelian langsung di toko plastik. Mustaroh menambahkan bahwa harga eceran di lapangan kemungkinan besar jauh lebih mahal dari angka tersebut. Meski biaya operasional melambung tinggi, ia memilih untuk tidak menaikkan harga jual es kelapa demi menjaga daya beli pelanggan setianya. Situasi ini tentu mengharuskan para pedagang untuk bertahan meski dalam kondisi margin keuntungan yang menipis.

Krisis pasokan dan harga plastik tahun 2026 menjadi pengingat bagi pelaku industri untuk melakukan diversifikasi sumber bahan baku. Ketergantungan tinggi pada satu jalur logistik internasional terbukti membawa risiko besar saat terjadi guncangan . Pemangku kepentingan pangan harus segera mencari solusi jangka panjang agar rantai pasok tidak terputus di masa depan. Stabilitas harga plastik pada akhirnya menentukan keberlangsungan operasional industri pangan dari skala korporasi besar hingga UMKM di seluruh pelosok negeri.