IPIDIKLAT News – Bank Indonesia bersama otoritas terkait memperketat standarisasi infrastruktur teknologi informasi guna mencegah ancaman siber terhadap sistem pembayaran nasional sepanjang tahun 2026. Upaya strategis ini muncul sebagai respons atas insiden peretasan sistem perantara transaksi keuangan yang sempat mengganggu alur pengiriman dana antarbank pada masa lalu.
Transformasi digital yang menawarkan kemudahan dan kecepatan transaksi kini menuntut kesadaran penuh akan keamanan sebagai fondasi utama pelayanan. Fenomena pergeseran dana ke aset kripto melalui lapisan middleware dalam insiden tahun sebelumnya membuktikan bahwa celah terkecil dalam infrastruktur perbankan menyimpan risiko fatal yang perlu pengawasan ekstra ketat.
Kepala Departemen Surveillance Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen Bank Indonesia, Anton Daryono, mengonfirmasi hasil evaluasi pihak regulator terhadap kerentanan infrastruktur bank. Bank Indonesia memerintahkan seluruh bank memperbaiki sistem mereka sesuai standar prinsip *Principles for Financial Market Infrastructures* (PFMI) untuk meminimalisir risiko yang timbul dari peserta atau *participant-generated risk*.
Urgensi Standar Keamanan Transaksi Digital untuk Ketahanan Siber
Perbankan nasional menanggung tanggung jawab besar dalam memperkuat tata kelola teknologi informasi. Bank Indonesia mewajibkan setiap bank meningkatkan kemampuan pencegahan, pendeteksian, respons dan pemulihan terhadap ancaman siber yang kian kompleks pada tahun 2026.
Selain memperkuat sistem inti, bank kini harus mengawasi secara ketat pihak ketiga yang bekerja sama dalam penyelenggaraan sistem pembayaran. Penguatan aturan kepesertaan BI-FAST menjadi bukti nyata komitmen regulator dalam menutup celah akses bagi pelaku kejahatan siber.
Hery Gunardi, Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) periode 2024-2028, menyatakan bahwa pihak perbankan menyambut baik arahan ini melalui serangkaian pengembangan teknis. Mereka mengacu pada Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) Nomor 29/SEOJK.03/2022 guna mengukur maturitas keamanan siber secara berkala dan terukur.
| Matriks Penilaian Siber |
|---|
| Penetapan Risiko Inheren terkait Keamanan Siber |
| Kualitas Manajemen Risiko terkait Keamanan Siber |
| Kualitas Penerapan Proses Ketahanan Siber |
| Penetapan Tingkat Maturitas Keamanan Siber |
Peran Strategis Lembaga Perantara dalam Ekosistem
Lembaga perantara transaksi memegang peranan krusial sebagai jembatan dalam integrasi sistem keuangan antarbank. Ketua Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), Santoso Liem, menegaskan perlunya sertifikasi standar internasional bagi para Penyelenggara Infrastruktur Sistem Pembayaran (PIP) guna memastikan keamanan pada lapisan *middleware*.
Adapun langkah konkret yang wajib mereka terapkan meliputi:
- Menjalankan *penetration test* secara rutin oleh auditor TI terdaftar di ASPI.
- Memasang *fraud detection system* untuk memantau anomali transaksi secara otomatis.
- Mematuhi Peraturan Bank Indonesia Nomor 2 Tahun 2024 terkait keamanan informasi.
- Menyelaraskan operasional dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 10 Tahun 2025 tentang industri sistem pembayaran.
Menariknya, mekanisme deteksi dini ini memicu respons cepat bagi bank anggota jika terjadi aktivitas mencurigakan. Dengan demikian, industri bisa melakukan penundaan transaksi atau bahkan menutup kanal pembayaran demi melindungi aset nasabah sebelum kerugian meluas.
Sinergi Multistakeholder dalam Perlindungan Konsumen
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong sinergi lintas lembaga untuk memitigasi risiko kejahatan digital, termasuk penipuan daring. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa inovasi digital memerlukan penguatan literasi dan tata kelola teknologi yang solid.
Sebagai bentuk kolaborasi nyata, pihak berwenang membentuk Indonesia Anti-Scam Center (IASC) pada 2026. Forum ini mempercepat proses penanganan laporan penipuan sekaligus meningkatkan perlindungan bagi konsumen di era digital yang semakin inklusif.
Selain kolaborasi domestik, dunia perbankan Indonesia juga mengamati praktik global di Amerika Serikat. Penggunaan *layered security controls* yang mengombinasikan analisis berbasis *machine learning* dan AI terbukti efektif dalam memantau pola transaksi secara *real-time* dan memberikan perlindungan transaksi yang lebih kuat.
Tantangan Keamanan di Balik Inovasi Digital
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Nugroho Sulistyo Budi, menekankan bahwa pengembangan sistem teknologi harus berjalan beriringan dengan keamanan siber. Ancaman baru dalam sistem perekonomian menuntut kewaspadaan ekstra dari setiap pelaku usaha di sektor jasa keuangan.
Praktisi perbankan, Arianto Muditomo, menggarisbawahi pentingnya komitmen industri dalam mengadopsi standar global. Selain infrastruktur, kapasitas sumber daya manusia juga menjadi faktor krusial yang menentukan keberhasilan sistem pengamanan transaksi.
Masyarakat harus berperan aktif menjaga data pribadi agar tidak jatuh ke tangan pihak yang tidak berwenang. Sinergi antara penegakan hukum berdasarkan UU ITE dan UU PDP diharapkan mampu menciptakan efek jera bagi pelaku kejahatan siber yang mencoba menembus pertahanan sistem keuangan nasional kita.
Pada akhirnya, efektivitas keamanan sistem pembayaran digital tidak sekadar bergantung pada regulasi tertulis, melainkan pada eksekusi cepat di lapangan. Kesiapan infrastruktur nasional dalam membaca anomali secara presisi menentukan seberapa aman ruang transaksi digital Indonesia di masa depan.
