Beranda » Berita » NATO Retak? Eropa Tolak AS, Iran Tawarkan ‘Hadiah’ Terbaru 2026

NATO Retak? Eropa Tolak AS, Iran Tawarkan ‘Hadiah’ Terbaru 2026

IPIDIKLAT News – Keretakan di internal NATO mencuat akibat perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Sejumlah sekutu utama AS di Eropa terang-terangan membangkang. Mereka menolak memberikan izin lintasan udara, pangkalan, hingga pengiriman sistem pertahanan udara. Hal ini terjadi di tengah ketidakpastian komitmen AS terhadap klausul pertahanan bersama NATO.

Penolakan negara-negara Eropa ini menandakan adanya perubahan dinamika politik global yang signifikan. Selain itu, langkah Iran menawarkan insentif ekonomi bagi negara-negara yang tidak berafiliasi dengan Barat semakin memperumit situasi.

Eropa ‘Pasang Badan’, Tolak Bantuan Militer AS

Middle East Eye melaporkan, Spanyol menjadi negara pertama yang secara resmi menutup ruang udaranya bagi pesawat tempur AS yang hendak menyerang Iran. menyusul langkah serupa. kabar Corriere della Sera melaporkan bahwa Roma menolak izin mendarat bagi pesawat militer AS yang menuju Timur Tengah di pangkalan Sisilia.

Tidak hanya itu, Polandia, yang selama ini dikenal sebagai sekutu setia AS di Eropa Timur, secara terbuka menolak permintaan informal pemerintahan Trump untuk merelokasi sistem pertahanan udara Patriot mereka ke Timur Tengah. Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa soliditas aliansi transatlantik sedang diuji.

Trump Geram, Ancam Sekutu NATO

Presiden AS Donald Trump meluapkan kekesalannya melalui unggahan di media X. Ia mengecam Prancis yang melarang wilayah udaranya digunakan untuk pengiriman peralatan militer ke Israel. Trump juga mengkritik Inggris yang enggan bergabung dalam perang.

Baca Juga :  Harga Pertamax Terbaru 2026: Ini Kata Pertamina!

“AS akan mengingat ini!!!” tulis Trump dengan nada mengancam. Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan dan potensi perubahan terhadap sekutu-sekutunya di NATO. Ketegangan semakin menjadi-jadi akibat pernyataan Menteri Perang AS, Pete Hegseth, yang menolak berkomitmen pada Pasal 5 NATO—prinsip bahwa serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua.

Pasal 5 NATO Dipertanyakan

Hegseth justru menyatakan bahwa AS telah menyerang Iran “atas nama dunia bebas”, namun justru mendapat hambatan dari para sekutu. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen AS terhadap pertahanan kolektif NATO di masa depan.

Situasi ini juga memperlihatkan adanya perbedaan pandangan antara AS dan sekutu-sekutunya mengenai dan kepentingan di Timur Tengah. Apakah NATO akan tetap solid di tengah perbedaan ini, ataukah perpecahan akan semakin dalam?

Dilema Energi Selat Hormuz 2026

Di balik penolakan negara-negara Eropa, terdapat kekhawatiran nyata akan stabilitas . Blokade Iran di telah melambungkan harga minyak dan gas di Eropa, yang sebelumnya terdampak akibat pengalihan sumber energi dari Rusia pasca-invasi Ukraina.

Iran kini mencoba membangun sistem alternatif di jalur pelayaran vital tersebut. Prioritas diberikan kepada kapal-kapal yang tidak berafiliasi dengan Barat atau yang bertransaksi menggunakan mata uang yuan , bukan dolar AS. Langkah ini semakin menantang dominasi AS dalam sistem keuangan global.

Sikap Lepas Tangan Trump Bikin Eropa Kebakaran Jenggot

Menanggapi hal ini, Trump justru menunjukkan sikap lepas tangan yang mengejutkan. “Ambil saja sendiri!” tulis Trump merujuk pada kendali Selat Hormuz. “Kalian harus belajar bertarung untuk diri sendiri. AS tidak akan ada lagi di sana untuk membantu kalian, sama seperti kalian tidak ada untuk kami. Pergi dan ambil minyak kalian sendiri!”

Baca Juga :  Berani Tangani Korupsi Besar - Jaksa Agung Minta Gebrakan Daerah!

Pernyataan ini seolah mengisyaratkan bahwa AS tidak lagi bersedia menanggung beban keamanan global sendirian. Negara-negara Eropa kini harus bersiap menghadapi konsekuensi dari perubahan kebijakan AS ini. KTT NATO pada 24 Maret di Brussels, Belgia menjadi ajang penting untuk membahas masa depan aliansi ini.

Kesimpulan

Perpecahan di internal NATO akibat ketegangan AS-Iran semakin nyata. Penolakan negara-negara Eropa dan sikap lepas tangan Trump menunjukkan perubahan lanskap geopolitik global. Negara-negara di dunia perlu bersiap menghadapi ketidakpastian dan mencari solusi alternatif untuk menjaga stabilitas dan keamanan.