IPIDIKLAT News – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) membatalkan kerja sama penyediaan infrastruktur fiber optik dengan PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE), entitas terafiliasi PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), per 2 Januari 2026. Pembatalan ini tertuang dalam laporan keuangan perusahaan yang baru-baru ini dirilis.
INET dan IJE secara resmi menyepakati pembatalan perjanjian tersebut melalui Berita Acara Pembatalan bernomor BAK/002/SIAP-IJE/I/2026 yang ditandatangani pada 6 Januari 2026. Lantas, bagaimana kelanjutan kerjasama INET dengan WIFI setelah pembatalan ini? Simak ulasan selengkapnya.
Alasan INET Batalkan Kontrak dengan IJE
INET menjelaskan pembatalan kerja sama dengan IJE, anak perusahaan WIFI yang bergerak di bidang pengembangan solusi ICT, telah disepakati bersama. Sebagai tindak lanjut, IJE telah mengembalikan seluruh uang jaminan senilai Rp 61 miliar kepada INET pada 6 Januari 2026.
Selain pembatalan kerja sama penyediaan infrastruktur fiber optik, INET melalui anak usahanya, PT Pusat Fiber Indonesia (PFI), juga membatalkan perjanjian layanan IP Transit dengan IJE. Kesepakatan ini tertuang dalam Berita Acara Kesepakatan No. 010/BAK.F/LEGAL/IJE-PFI/II/2026 tertanggal 16 Februari 2026.
Sebagai konsekuensi dari pembatalan perjanjian layanan IP Transit tersebut, PFI mengembalikan uang muka yang telah diterima dari IJE sebesar Rp 48,51 miliar pada 23 Februari 2026.
Kelanjutan Kerjasama INET dan WIFI
Meski INET dan PFI membatalkan perjanjian dengan IJE, kolaborasi dengan WIFI tidak serta merta berakhir. PFI melakukan penyesuaian kerjasama dengan entitas lain di bawah naungan WIFI.
Pada 6 Februari 2026, PFI dan PT Jaringan Infra Andalan (JIA) menandatangani addendum atas Perjanjian Layanan IP Transit No. 111A/PKS/LGL/PFI-JIA/VII/2025/P1, dengan nilai uang jaminan sebesar Rp 269,23 miliar. Perlu dicatat bahwa JIA juga merupakan bagian dari ekosistem bisnis WIFI.
SVP Corporate Secretary INET, Arki Rifazka, menjelaskan bahwa penyesuaian ini mempertimbangkan aspek bisnis dan operasional. JIA, sebagai induk usaha IJE untuk lini bisnis FTTH dan FWA, memungkinkan cakupan pemanfaatan layanan yang lebih luas.
“Kerja sama pada level JIA memungkinkan cakupan pemanfaatan layanan yang lebih luas pada unit-unit usaha di bawahnya,” kata Arki kepada Katadata,Selasa (31/3).
INET Ubah Strategi, Jangkauan Lebih Luas?
Arki menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar penghentian kerja sama, melainkan penyesuaian struktur kontraktual dalam layanan IP Transit. INET melihat potensi cakupan komersial yang lebih luas melalui kerjasama dengan JIA.
“Oleh karena itu, informasi dimaksud merupakan bagian dari kewajiban pengungkapan dalam laporan keuangan audited Perseroan dan bukan pernyataan tersendiri dari manajemen perseroan,” ujarnya.
Secara struktur perusahaan, JIA merupakan entitas langsung WIFI dengan kepemilikan saham 99,99%. Di bawah JIA, terdapat IJE (kepemilikan saham 50,84%), PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) (kepemilikan 99,9%), dan PT Investasi Jaringan Nusantara (IJN) melalui PT Dharma Sinar Semesta (DSS).
INET Gandeng Empat Entitas Sekaligus?
Dengan menjalin kerjasama dengan JIA, INET secara tidak langsung bekerjasama dengan empat entitas di bawah naungan JIA. Langkah ini dinilai strategis untuk memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan efisiensi operasional.
Menariknya, perubahan struktur kerjasama ini justru berpotensi memberikan keuntungan yang lebih besar bagi INET. Lalu, bagaimana dampak perubahan ini terhadap kinerja keuangan INET di tahun 2026?
Analisis: Dampak Pembatalan dan Strategi Baru INET
Pembatalan kerjasama dengan IJE dan pengalihan kerjasama ke JIA menunjukkan bahwa INET melakukan evaluasi mendalam terhadap strategi bisnisnya. Keputusan ini kemungkinan besar didasari oleh pertimbangan efisiensi, cakupan layanan, dan potensi pertumbuhan yang lebih besar.
Selain itu, kerjasama dengan JIA memungkinkan INET untuk mengakses jaringan dan infrastruktur yang lebih luas, sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan dan menjangkau lebih banyak pelanggan. Hal ini tentu dapat berdampak positif terhadap pendapatan dan profitabilitas perusahaan.
Namun, tantangan yang dihadapi INET juga tidak sedikit. Persaingan di industri telekomunikasi semakin ketat, dan INET perlu terus berinovasi dan meningkatkan daya saingnya agar dapat bertahan dan berkembang.
Kesimpulan
Pembatalan kerjasama INET dengan IJE bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari strategi baru yang lebih menjanjikan. Keputusan strategis untuk bermitra dengan JIA, sebagai induk usaha yang menaungi beberapa entitas bisnis, berpotensi membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar bagi INET di masa depan.
