IPIDIKLAT News – Indonesia dan Jepang terus mempererat hubungan bilateral yang telah terjalin selama 68 tahun. Terbaru 2026, Presiden RI Prabowo Subianto melakukan kunjungan resmi ke Jepang untuk memperkuat kemitraan strategis di berbagai sektor, mulai dari ekonomi hingga sosial budaya.
Kunjungan tersebut, yang didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menandai komitmen kedua negara untuk meningkatkan kerja sama ke level yang lebih tinggi. Fokus utama kunjungan adalah penguatan hubungan ekonomi, yang dibahas secara mendalam dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Imperial Hotel Tokyo.
Fokus Utama: Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kontribusi perusahaan-perusahaan Jepang sangat penting dalam membangun hubungan ekonomi yang kuat antara kedua negara. Hubungan Indonesia dan Jepang yang telah terjalin selama beberapa dekade ini menjadi fondasi penting bagi kemitraan yang berkelanjutan.
“Saya hadir di sini bukan hanya untuk melanjutkan kemitraan yang sudah ada, tetapi untuk mendorongnya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih cepat,” ujar Prabowo. “Dunia semakin mengecil. Tidak ada pilihan lain selain kerja sama erat di semua bidang. Saya percaya hubungan ekonomi dan kemitraan yang kuat akan menghasilkan perdamaian dan persahabatan yang berkelanjutan. Jika kita memiliki kepentingan bersama, kita akan menjaga masa kini dan masa depan.”
Forum Bisnis Indonesia-Jepang per 2026 menjadi platform strategis bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai mitra utama Jepang di kawasan. Agenda ini juga membuka peluang baru untuk kerja sama ekonomi yang lebih modern, tangguh, dan berorientasi pada masa depan. Indonesia ingin terus meningkatkan kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang.
Posisi Jepang dalam Perekonomian Indonesia
Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Jepang semakin solid per 2026. Jepang saat ini merupakan tujuan ekspor terbesar ke-4 bagi Indonesia, dengan nilai mencapai US$17,61 miliar. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya pasar Jepang bagi produk-produk Indonesia.
Jepang juga menjadi salah satu investor utama di Indonesia, menduduki peringkat ke-5 dengan total investasi sebesar US$3,13 miliar. Investasi ini terutama mengalir ke sektor industri otomotif dan alat transportasi, diikuti oleh sektor kimia dan farmasi.
Tidak hanya itu, Jepang turut berperan penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur skala besar di Indonesia melalui skema kerja sama Pemerintah dan badan usaha serta bantuan pembangunan. Sektor-sektor yang mendapatkan manfaat besar dari dukungan ini meliputi transportasi, pelabuhan, energi, dan infrastruktur perkotaan.
Investasi Jepang: Kualitas dan Komitmen Jangka Panjang
Di hadapan para pemimpin dunia usaha, Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa investasi Jepang memiliki kualitas tinggi, dengan karakter disiplin, penguasaan teknologi, serta komitmen jangka panjang. Hal ini menjadi daya tarik utama bagi Indonesia untuk terus menjalin kerja sama dengan Jepang.
“Jepang membawa kualitas dalam investasi, disiplin, teknologi, dan komitmen jangka panjang. Itulah sebabnya investasi Jepang dihormati, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia dan secara pribadi saya sangat menghargai hubungan ini,” kata Prabowo.
Pada kesempatan tersebut, telah ditandatangani 10 Nota Kesepahaman (MoU) dengan total nilai kerja sama mencapai sekitar US$23,1 miliar atau setara dengan Rp392,7 triliun. Penandatanganan MoU ini semakin memperkuat komitmen kedua negara untuk terus meningkatkan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
Pembaruan IJEPA: Fondasi Kerja Sama yang Lebih Kuat
Pembaruan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) diharapkan dapat memperkuat fondasi kerja sama kedua negara. Peningkatan akses pasar, perluasan kolaborasi, serta modernisasi kerangka ekonomi bilateral menjadi kunci dalam pembaruan perjanjian ini.
IJEPA menjadi instrumen penting dan krusial untuk mempercepat dan memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang. Dengan adanya IJEPA, diharapkan investasi dan perdagangan antara kedua negara akan semakin meningkat.
Arah Kerja Sama Masa Depan Indonesia-Jepang
Ke depannya, kerja sama antara Indonesia dan Jepang diharapkan dapat melampaui kerja sama ekonomi tradisional. Kolaborasi akan difokuskan pada penciptaan solusi masa depan secara bersama, terutama dalam tiga area utama.
Pertama, Transisi Energi dan Pertumbuhan Hijau menjadi prioritas utama. Kedua negara akan bekerja sama dalam pengembangan energi terbarukan dan teknologi hijau untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Kemudian, Transformasi Industri dan Hilirisasi menjadi fokus penting lainnya, untuk meningkatkan nilai tambah produk-produk Indonesia. Terakhir, Memperkuat Rantai Pasok Global akan menjadi kunci untuk memastikan ketahanan ekonomi di tengah tantangan global.
“Pertemuan business-to-business dan pertukaran MoU ini merupakan langkah konkret menuju pembangunan kemitraan yang lebih kuat. Indonesia percaya bahwa masa depan kemitraan ini terletak pada bekerja, berinovasi, dan bertumbuh bersama, sehingga dapat membentuk masa depan yang penuh kemakmuran bersama, tak hanya untuk kedua negara, tetapi juga untuk kawasan Indo-Pasifik,” tutur Menko Airlangga.
Dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang ini, turut hadir Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Menteri Investasi dan Hilirisasi RI Rosan Roeslani, Parliamentary Vice-Minister of Economy, Trade and Industry Japan Komori Takuo, Chairman and CEO of Japan External Trade Organization (JETRO) Norihiko Ishiguro, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, serta perwakilan dari Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Japan, Keidanren, dan JETRO. Semua pihak bersinergi untuk kemajuan kemitraan Indonesia dan Jepang.
Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang: Investasi Masa Depan
Kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang terus menunjukkan perkembangan yang signifikan dan menjanjikan memasuki tahun 2026, yang didorong oleh komitmen kuat dari kedua negara untuk menciptakan hubungan yang lebih erat dan saling menguntungkan. Apakah kemitraan ini akan terus menjadi contoh sukses kerja sama bilateral di kawasan Indo-Pasifik? Waktu yang akan menjawab.
