Beranda » Berita » Harga Avtur Melonjak? Garuda Indonesia Siapkan Jurus Ampuh!

Harga Avtur Melonjak? Garuda Indonesia Siapkan Jurus Ampuh!

IPIDIKLAT News – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyiapkan serangkaian langkah mitigasi untuk menghadapi fluktuasi harga avtur yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Langkah-langkah ini meliputi optimalisasi pengelolaan bahan bakar dan efisiensi biaya operasional secara menyeluruh. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, pada Selasa, .

Strategi Mitigasi Harga Avtur Garuda Indonesia

Manajemen Garuda Indonesia akan mempertimbangkan langkah-langkah berkelanjutan dengan utama pada pengendalian biaya dan optimalisasi arus kas perusahaan. Nah, karakteristik sebagai komponen biaya terbesar dalam struktur biaya operasional menjadi perhatian utama. Garuda Indonesia akan terus memastikan kebutuhan konektivitas masyarakat tetap terpenuhi secara optimal.

Di internal perusahaan, manajemen akan memperkuat konsolidasi bersama seluruh jajaran karyawan, termasuk anak dan cucu perusahaan. Lebih dari itu, Garuda memandang penguatan ekosistem industri melalui kerja sama yang lebih erat dengan berbagai pihak sebagai kunci menghadapi situasi saat ini. Kerja sama dan sinergi yang lebih erat dengan para pemangku kepentingan di sektor aviasi nasional menjadi faktor kunci dalam menjaga resiliensi industri penerbangan di tengah tekanan global saat ini.

Usulan Kenaikan Tarif Tiket dan Fuel Surcharge

Sebelumnya, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mengusulkan kenaikan tarif batas atas tiket sebesar 15 persen untuk pesawat jenis jet dan propeller kepada Kementerian Perhubungan. Mereka juga mengusulkan kenaikan bahan bakar atau fuel surcharge sebesar 15 persen pada masing-masing jenis pesawat. Usulan ini muncul sebagai respons terhadap kenaikan harga minyak global yang signifikan.

Baca Juga :  Kapal Wisata Disegel: Bea Cukai Tindak Kapal Asing di Jakarta

Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, menjelaskan bahwa harga minyak global per Maret 2026 naik dari US$ 70 per galon menjadi US$ 110 per galon, atau melonjak 57 persen. Kenaikan ini berimbas langsung pada fluktuasi di Indonesia. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2019, harga avtur berada di angka Rp 10.442, namun pada Maret 2026 telah mencapai Rp 14.000-15.500, atau naik sebesar 34-48 persen. Lantas, apa langkah selanjutnya dari INACA?

Bayu memprediksi harga avtur akan terus meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak akibat krisis geopolitik global yang masih berlangsung. Oleh karena itu, INACA meminta pemerintah untuk mempertimbangkan usulan kenaikan tarif dan fuel surcharge demi menjaga keberlangsungan operasional maskapai nasional.

Dampak Pelemahan Rupiah dan Permintaan Stimulus

Bayu menambahkan bahwa sekitar 70 persen operasional industri penerbangan nasional menggunakan dolar , sementara pendapatan diperoleh dalam mata uang rupiah. Namun, tukar rupiah terus melemah sejak tarif batas atas diterapkan pada 2019, dari asumsi US$ 1 bernilai Rp 14.136 menjadi Rp 17 ribu per dolar pada Maret 2026, atau naik 20 persen. Akibatnya, biaya operasional semakin membengkak dan harga suku cadang juga naik karena pelemahan kurs.

INACA juga meminta adanya sejumlah stimulus yang bersifat temporer, seperti pada 2026, yaitu penundaan PPN avtur dan tiket domestik, hingga keringanan biaya bandara. Langkah ini diharapkan dapat membantu meringankan beban operasional maskapai penerbangan selama periode puncak permintaan.

Tantangan Industri Penerbangan di 2026

Industri penerbangan di tahun 2026 menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari fluktuasi harga avtur, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga tekanan geopolitik global. Akan tetapi, INACA dan Garuda Indonesia berupaya untuk mencari solusi yang komprehensif guna menjaga keberlangsungan industri ini. Dengan sinergi antara pemerintah, maskapai penerbangan, dan seluruh pemangku kepentingan, diharapkan industri penerbangan nasional dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Bagaimanapun, konektivitas udara tetap menjadi urat nadi perekonomian.

Baca Juga :  Lifting Equipment Terbaru 2026: Megajaya Unjuk Gigi di Jerman!

Efisiensi Biaya Operasional Sebagai Kunci Bertahan

Salah satu kunci utama bagi maskapai penerbangan untuk bertahan di tengah tantangan ini adalah dengan melakukan operasional. Garuda Indonesia telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar dan menekan biaya-biaya lainnya. Selain itu, kerja sama dengan berbagai pihak juga menjadi penting untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih kuat.

Dengan strategi yang tepat, Garuda Indonesia optimis dapat menghadapi fluktuasi harga avtur dan terus memberikan layanan terbaik bagi masyarakat. Upaya mitigasi harga avtur harus dilakukan dengan cermat.

Kesimpulan

Garuda Indonesia mengambil langkah proaktif untuk mengatasi dampak fluktuasi harga avtur di 2026 melalui optimalisasi biaya dan kolaborasi. INACA juga mengusulkan penyesuaian tarif dan stimulus pemerintah. Efisiensi operasional dan sinergi industri menjadi kunci menjaga stabilitas penerbangan nasional di tengah tantangan global. Langkah-langkah ini krusial demi menjaga konektivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.