Beranda » Berita » Krisis Pupuk Global 2026: Selat Hormuz Memanas, Ketahanan Pangan Terancam

Krisis Pupuk Global 2026: Selat Hormuz Memanas, Ketahanan Pangan Terancam

IPIDIKLAT News – Penutupan Selat Hormuz per 2026 mengguncang pasar pupuk global, memicu kekhawatiran akan . Gangguan ini muncul di tengah lonjakan biaya produksi , mengancam jadwal tanam petani dan ketahanan pangan dunia.

Konflik yang berkecamuk di sejak 28 Februari 2026, melibatkan serangan AS dan Israel terhadap , telah menciptakan efek domino pada sektor pertanian. Ketegangan regional semakin memanas setelah Iran membalas dengan serangan dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS. Akibatnya, jatuhnya korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pasar global dan penerbangan tak terhindarkan.

Dampak Krisis Selat Hormuz pada Pasokan Pupuk Global

Selat Hormuz, jalur perairan vital yang dikendalikan Iran, memainkan peran penting dalam distribusi energi dan pasokan lainnya ke Asia. Terganggunya rantai pasok pupuk dan energi di kawasan ini menghambat pertanian global. Akibatnya, dunia berpotensi menghadapi krisis pangan yang lebih parah dibandingkan tahun 2022 saat konflik Rusia-Ukraina pecah.

Hampir lumpuhnya lalu lintas pengiriman di Selat Hormuz mengganggu sekitar 38 persen berbasis nitrat global dan 20 persen pupuk berbasis fosfat. Kondisi ini menimbulkan ancaman langsung terhadap ketahanan pangan para petani di seluruh dunia.

Sekitar 46 persen pasokan urea global berasal dari kawasan Teluk. Penghentian ekspor ini memperparah krisis pupuk global yang terjadi per 2026.

Kemacetan Logistik Ancam Gagal Panen

Sekitar separuh dari 2,1 juta ton stok urea dalam dua tahun terakhir tidak bisa dimuat ke kapal karena gangguan . Para ahli memperingatkan bahwa kemacetan pengiriman ini berpotensi menyebabkan gagal panen di tengah musim tanam global.

Baca Juga :  LNG Abadi Masela: Pertamina-INPEX Perkuat Proyek Energi Raksasa

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat bahwa keberlanjutan produksi pertanian modern sangat bergantung pada pasokan lebih dari 190 juta ton produk nutrisi tanaman yang digunakan setiap tahun di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 110 juta ton merupakan pupuk nitrogen. Namun, pupuk jenis ini menjadi yang paling rentan terhadap krisis geopolitik karena ketergantungannya pada gas alam sebagai bahan baku.

energi semakin menekan pasar pupuk global. Selain pupuk berbasis nitrogen, pupuk berbasis fosfor (45 juta ton) dan kalium (40 juta ton) juga memegang peranan penting.

Selat Hormuz: Lebih dari Sekadar Jalur Energi

Para ahli menekankan bahwa gangguan sekecil apa pun dalam rantai pasok tiga input pertanian utama (nitrogen, fosfor, kalium) dapat menyebabkan penurunan produksi tanaman global yang sulit dipulihkan. Selat Hormuz bukan hanya jalur energi, melainkan juga rute transportasi krusial untuk bahan baku strategis seperti urea dan amonia. Negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Iran adalah pemasok utama pupuk nitrogen global.

Memasuki musim tanam di belahan bumi utara, gangguan jalur pelayaran ini berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian dan pasokan pangan.

Lonjakan Harga Pupuk Picu Kekhawatiran

Harga gas alam, yang menyumbang sekitar 80 persen dari biaya produksi pupuk nitrogen, melonjak tajam dan memaksa sejumlah fasilitas besar untuk menghentikan operasi. Harga urea dan amonia mengalami kenaikan signifikan setelah penutupan Selat Hormuz.

Harga urea naik dari 482,5 AS per ton pada 27 Februari 2026 menjadi 720 dolar AS pada pertengahan Maret 2026, atau meningkat sekitar 50 persen. Harga amonia di Timur Tengah juga naik 24 persen hingga mendekati 600 dolar AS per ton.

Baca Juga :  Gunungan Sampah Rawadas - Ini Penyebabnya & Solusinya

Serangan militer terhadap infrastruktur energi regional dan deklarasi *force majeure* oleh perusahaan energi semakin mengancam ketahanan pasokan global.

Kesimpulan

Penutupan Selat Hormuz per 2026 menghadirkan tantangan serius bagi ketahanan pangan global. Lonjakan harga pupuk dan terhambatnya rantai pasok berpotensi mengganggu produksi pertanian di berbagai belahan dunia. Diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mengatasi krisis ini dan memastikan ketersediaan pangan yang cukup dan terjangkau bagi seluruh masyarakat dunia.