IPIDIKLAT News – Peternak menyetujui wacana impor 100.000 sapi dari Brasil sebagai solusi mengatasi defisit daging sapi nasional per 2026. Langkah ini menjadi opsi sementara sembari menggenjot produksi dalam negeri.
Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Djoni Liano, menyatakan bahwa impor sapi, termasuk dari Brasil, menjadi solusi realistis. Hal ini mengingat kebutuhan daging sapi nasional masih belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi lokal.
Defisit Daging Sapi Nasional Capai 54%
Djoni menjelaskan, perhitungan pemerintah terbaru 2026 menunjukkan defisit daging sapi nasional masih sekitar 54% dari total kebutuhan. Oleh karena itu, impor sapi dianggap sebagai jalan keluar paling memungkinkan untuk menjaga pasokan dan menstabilkan harga di pasar domestik.
“Hitungan pemerintah juga begitu, defisitnya masih sekitar 54% dari kebutuhan nasional,” ungkap Djoni saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (30/3).
Impor Sapi untuk Swasembada Protein 2026
Rencana impor sapi ini sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai swasembada komoditas protein pada 2026. Impor yang direncanakan tidak hanya mencakup sapi potong, tetapi juga sapi indukan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan populasi sapi dan memperkuat sektor peternakan dalam negeri.
Meski begitu, Djoni menekankan pentingnya kejelasan model bisnis impor sapi indukan. Pemerintah perlu menentukan skema pengelolaan yang tepat, apakah sapi indukan akan dikelola di peternakan pemerintah atau langsung didistribusikan kepada peternak.
Dorongan Impor Sapi Hidup Lebih Menguntungkan
Pemerintah saat ini cenderung mendorong impor sapi hidup dibandingkan daging beku. Alasannya, impor sapi hidup dinilai memberikan nilai tambah lebih besar bagi industri dalam negeri.
Impor sapi hidup berpotensi meningkatkan penyerapan tenaga kerja, penggunaan pakan lokal, serta aktivitas pemotongan di rumah potong hewan (RPH). Industri turunan seperti pengolahan kulit dan produk sampingan lainnya juga akan ikut bergeliat.
“Jadi industrinya bergerak di dalam negeri,” kata Djoni.
Target Populasi Sapi 2 Juta Ekor di 2026
Kementerian Koordinator Bidang Pangan menargetkan pasokan populasi sapi sebanyak 2 juta ekor hingga 2029. Akan tetapi, perlu ada evaluasi terkait capaian target per tahun. Pemerintah perlu memastikan program berjalan efektif dan sesuai rencana.
Target ini merupakan upaya untuk memperkuat produksi daging dan susu nasional. Kebijakan impor juga bertujuan untuk menutup kekurangan pasokan dalam jangka pendek sambil menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Harga daging sapi per kilogramnya saat ini menyentuh Rp 140 ribu. Kementerian Perdagangan (Mendag) menyatakan harga ini masih sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Tantangan Pengembangan Peternakan Lokal
Pengembangan sektor peternakan lokal menghadapi berbagai tantangan. Permasalahan klasik seperti keterbatasan lahan, modal, dan teknologi masih menjadi kendala utama bagi peternak.
Selain itu, kualitas bibit sapi lokal juga perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan sapi impor. Program inseminasi buatan dan transfer embrio dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kualitas genetik sapi lokal.
Pemerintah perlu memberikan dukungan yang komprehensif kepada peternak lokal. Dukungan ini meliputi penyediaan bibit unggul, pelatihan teknis, akses pembiayaan, dan jaminan pasar.
Peran Teknologi dalam Peternakan Modern
Pemanfaatan teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi peternakan. Teknologi seperti sistem identifikasi ternak berbasis RFID (Radio Frequency Identification), sensor suhu tubuh, dan aplikasi manajemen peternakan dapat membantu peternak dalam memantau dan mengelola kesehatan serta produktivitas ternak.
Selain itu, teknologi pengolahan pakan juga dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi penggunaan pakan. Pakan fermentasi dan pakan komplit dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi dengan biaya yang lebih terjangkau.
Kesimpulan
Impor sapi dari Brasil menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi defisit daging sapi nasional. Namun, pemerintah perlu fokus pada pengembangan peternakan lokal agar swasembada daging sapi dapat tercapai di masa depan.
